Ingin Berkarier Sebagai Entrepreneur? Baca Ini Dulu

Ingin Berkarier Sebagai Entrepreneur? Baca Ini Dulu

KarirKarir? Entrepreneur? Awalnya saya merasa aneh dengan frasa “Berkarir sebagai entrepreneur” ini. Bagi saya, karir identik dengan ‘jenjang karir’, dimana untuk mencapai suatu jabatan tertinggi, seseorang harus mulai dari bawah, dan menjalani proses bertahun-tahun untuk naik pangkat. Saya juga ingat dengan ‘wanita karir’, yaitu wanita yang bekerja kantoran bukannya jadi ibu rumah tangga yang ‘hanya’ mengurus anak, suami, dan rumah. Karir adalah sesuatu yang hanya ada di perusahaan. Ternyata, pengetahuan saya tentang karir terlalu sempit.

Your Job Is Not Your Career

Dalam bukunya yang berjudul “Your Job Is Not Your Career”, Rene Suhardono menjelaskan panjang lebar mengenai pekerjaan (job) dan karier. Selama ini, banyak orang mengira pekerjaan identik dengan karier. Padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda.

Pekerjaan (job) adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan tujuan perusahaan, job description, lingkungan kerja, fasilitas, gaji, dan kompensasi. Job adalah  alat atau kendaraan yang bisa membawa kita ke satu tempat yang kita kehendaki. Tapi job bukan milik kita. Kita bisa keluar masuk suatu pekerjaan, bisa resign, bisa pensiun, intinya bisa berpisah dengan pekerjaan.

Sementara karier adalah yang berkaitan erat dengan passion, tujuan hidup, nilai-nilai, motivasi dalam berkarya dan memberi kontribusi untuk lingkungan, ketercapaian, dan kebahagiaan.

Jika pekerjaan adalah kendaraan, maka karier adalah perjalanannya. Kita bisa berganti pekerjaan, namun bisa tetap selaras dengan tujuan hidup yang kita cita-citakan. Kita bisa dipecat dari perusahaan namun bukan dari karir. Your career is you.

Masih bingung?

“Pekerjaan milik perusahaan. Karier milik Anda.

Karir berbicara soal impian, keinginan terbaik, dan hidup Anda.

Jangan cuma menerima pekerjaan. Anda harus memilih pekerjaan yang sesuai dengan karir Anda.

Jangan hanya mencari pekerjaan yang lebih baik, carilah karier yang gemilang.”

(Rene Suhardono)

Bagaimana menentukan karir?

Rene mengutip perkataan Erich From, seorang filsuf yang menyebut bahwa sebagian besar manusia berpikir dengan pola seperti ini: Jika MEMILIKI uang, sumber daya tertentu, mereka bisa MELAKUKAN apa yang mereka inginkan, kemudian mereka akan BAHAGIA. Sayangnya, tidak akan pernah ada kata “cukup” untuk uang, ketenaran, atau atribut lain. Maka Fromm menawarkan pola alternative sebagai berikut: MENJADI diri sendiri, dengan mengenal kekuatan, passion, dan tujuan hidup, lalu LAKUKAN apa yang Anda cintai, dan berikan kontribusi maksimal kepada lingkungan sehingga nantinya Anda akan MENDAPATKAN apa yang Anda butuhkan.

Lakukan apa yang Anda cintai. Itulah passion. Passion bukanlah apa yang bisa Anda kerjakan dengan baik, tapi apa yang paling Anda nikmati untuk dikerjakan. Passion adalah segala hal yang begitu Anda sukai sehingga tidak terpikir untuk tidak mengerjakannya.

Passion menghasilkan energy dan antusiasme. Dua hal ini yang akan menjadi bahan bakar Anda untuk mencapai apapun yang Anda cita-citakan.

Jadi, apakah passion Anda? Apakah pekerjaan Anda sekarang sudah sesuai dengan passion? Ingat, job atau pekerjaan bukan milik kita. Kita tidak bisa menduduki sebuah jabatan selama-lamanya. Bahkan meski relatif ‘aman’ sekalipun seperti di BUMN atau PNS, pada akhirnya akan tiba saatnya bagi Anda untuk pensiun.

Berkarier sebagai entrepreneur

Berkarir sebagai entrepreneur? Mengapa tidak? Tapi sebelumnya, pastikan bahwa menjadi entrepreneur adalah passion Anda. Sesuatu yang Anda sukai untuk dikerjakan. Sesuatu yang meski dihadang masalah sesulit apapun, tidak mungkin Anda tinggalkan saking cintanya. Sesuatu yang bisa membuat Anda bangkrut berkali-kali, tapi tidak menghilangkan energy Anda untuk bangkit lagi dan lagi. Itulah mengapa passion sangat penting.

Memilih untuk menjadi entrepreneur membutuhkan keberanian. Entrepreneur harus self-motivated (memiliki motivasi diri yang kuat). Ada istilah you eat what you kill. Anda mendapatkan apa yang Anda usahakan. Kalau tidak menghasilkan, bisa-bisa ga makan. Itulah mengapa, tak hanya sekedar bermimpi, entrepreneur juga harus berusaha keras merealisasikannya dan berani menetapkan deadline untuk mencapai sukses.

ACTION!

Seperti pesan yang selalu digaungkan guru saya, Jaya Setiabudi, “Sebaik-baik usaha adalah yang dimulai, bukan yang ditanyakan terus-menerus.” Intinya adalah action, to make it happen!  Lakukan langkah-langkah kecil yang menuju pencapaian sukses yang kita inginkan.

Jika menjadi entrepreneur adalah passion Anda, segera bergerak! Lakukan sekarang, do the best, be the best! Follow your passion, then money will follow.

Sumber : yukbisnis.com

Anatomi Bisnis Islami

Anatomi Bisnis Islami

bisnis islamiMengapa bisnis harus sesuai syariah? pertanyaan ini sering muncul di benak pebisnis. Moga dapat mencerahkan kita semua bahwa bisnis tak lepas dari amal keseharian kita dan amal – apapun itu – mesti terikat dengan syariah. Terikat? Yap, karena kita ingin berbisnis penuh ‘berkat’ dan berkah, agar bisnis kita menjadi salah satu jalan kita meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. Insya Allah. Seperti apa bisnis syariah itu?

Pertama, Anatomi Bisnis Islami

Bisnis dengan segala macam aktivitasnya terjadi dalam kehidupan kita setiap hari, sejak bangun pagi hingga tidur kembali.  Betapa komprehensifnya cakupan bisnis. Bila semua cakupan bisnis ini dicoba  diterjemahkan, maka akan muncul pengertian yang komprehensif pula.

Kamus Bahasa Indonesia mengartikan bisnis sebagai “usaha dagang, usaha komersial di dunia perdagangan, dan bidang usaha”. Skinner (1992)  mendefinisikan bisnis sebagai pertukaran barang, jasa atau uang yang saling menguntungkan atau memberi manfaat. Menurut Anoraga dan Soegiastuti (1996) bisnis memiliki makna dasar sebagai “the buying and selling of goods and services”.

Dari semua definisi yang digali dari fakta bisnis tersebut, dapat disimpulkan bahwa suatu organisasi/pelaku  bisnis akan melakukan aktivitas bisnis dalam bentuk: (1) memproduksi dan atau mendistribusikan barang dan/atau jasa, (2) mencari profit dengan menjual, menyewakan, mengerjakan sesuatu, mendistribusikan, dan aktivitas sejenis lainnya, dan (3) mencoba memuaskan keinginan konsumen.

Karenanya setiap organisasi bisnis akan melakukan  fungsi  dan aktivitas yang sama.  “Kalau begitu lalu apanya yang beda?

Bangunan  bisnis Islami bisa dibandingkan dalam sejumlah aspeknya dengan bisnis non Islami. Berikut ikhtisar anatomi bisnis Islami vs bisnis yang tidak Islami (konvensional sekuler) :

  1. Asas

    Aqidah Islam (nilai-nilai transendental) vs asas Sekulerisme (nilai-nilai material).

  2. Motivasi

    Dunia – akhirat vs Dunia.

  3. Orientasi

    Profit dan Benefit (non materi/qimah), Pertumbuhan, Keberlangsungan, dan  Keberkahan vs Orientasi: Profit, Pertumbuhan, dan Keberlangsungan.

  4. Strategi Induk:

    Visi dan misi organisasi terkait erat dengan misi penciptaan manusia di dunia vs Visi dan misi organisasi ditetapkan berdasarkan pada kepentingan material belaka.

  5. Manajemen/Strategi Fungsional Operasi/Proses

    Jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran, Mengedepankan produktivitas dalam koridor syariah vs Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran, Mengedepankan produktivitas dalam koridor manfaat.

  6. Manajemen/Strategi Fungsional Keuangan

    Jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran keuangan vs Tidak ada jaminan halal bagi setiap masukan, proses dan keluaran keuangan.

  7. Manajemen/Strategi Fungsional Pemasaran

    Pemasaran dalam koridor jaminan halal vs Pemasaran menghalalkan cara.

  8. Manajemen/Strategi Fungsional SDM

    SDM profesional dan berkepribadian Islam, SDM adalah pengelola bisnis, SDM bertanggung jawab pada diri, majikan dan Allah SWT vs SDM profesional, SDM adalah faktor produksi, SDM bertanggung jawab pada diri dan majikan.

  9. Sumberdaya

    Halal vs Halal dan haram.

Jika sembilan karakter bangunan bisnis Islami ini diringkas, maka pembedanya dengan bisnis yang tidak Islami adalah pada aspek Keberkahan. Berkah adalah ridlo Allah Swt atas amal bisnis, yaitu ketika bisnis dijalankan  sesuai dengan syariah-Nya. Karenanya, aktivitas bisnis Islami tidak dibatasi kuantitas kepemilikan hartanya, namun dibatasi dalam cara perolehan dan pendayagunaan  hartanya (ada aturan halal dan haram). Nah!

Kedua,  Mengapa Harus Disebut Bisnis Syariah?

Jika disebut kata ‘bisnis’ saja tanpa embel-embel apapun, konotasinya pasti mengarah pada sistem yang diterapkan saat ini, maka pengertiannya akan menjadi ‘bisnis kapitalis’ atau ‘bisnis konvensional’ yang pasti tidak Islami atau jauh dari syariat Islam.

Atas dasar itu, menjadi penting penggunaan istilah ‘bisnis Islami’ atau ‘bisnis syariah’ untuk menegaskan sifat bangunan bisnis yang dilakukan dan memberi efek edukasi pada masyarakat luas bahwa kita memang tengah hidup dalam sistem yang tidak islami.

Ketiga,  Bisakah Bisnis Islami Berjalan Sempurna Dalam Sistem Saat Ini ?

Bisnis yang sukses umumnya adalah bisnis yang mendapat ‘berkat” (profit, tumbuh dan sinambung), tapi  tidak atau belum tentu berkah. Lalu, kalau pun ada yang ‘berkat’ dan berkah, jumlahnya sedikit dan sulit berkembang optimal, karena terhambat perilaku bisnis sekuler yang menghalalkan segala cara.

Bisnis Islami hanya akan hidup secara ideal dan sistem dan lingkungan yang Islami pula. Sebaliknya bisnis non Islami juga hanya akan hidup secara ideal dalam sistem dan lingkungan yang sekuler/sosialis. Jadi, apa yang mesti kita lakukan? Pengusaha mesti bersatu wujudkan sistem Islam (syariah dan khilafah)?  Atau jangan-jangan kita pragmatis saja seraya terus mencari alternatif lain selain Islam?  Dan kalau ini yang terjadi, apa kata dunia?

Muhammad Karebet Widjajakusuma
Praktisi bisnis syariah bidang konsultasi dan training manajemen dan motivasi

Sumber : mediaumat.com

Hubungan antara Toko dan Perusahaan

Hubungan antara Toko dan Perusahaan

Perusahaan sebelum menetapkan ketentuan kuantitas toko atau customer yang harus dikunjungi tentunya telah mengadakan survei di lapangan seberapa banyak customer di suatu area, misalnya area Surabaya. Sehingga dapat menentukan per hari berapa banyak toko yang harus dikunjungi. Seperti yang diutarakan oleh para salesman yang pernah saya temui, rata-rata mereka harus mengunjungi 30 toko per hari. Artinya, jika mereka bekerja secara penuh dalam satu bulan yang rata-rata 25 hari, maka persatu salesman harus mengunjungi 750 toko per bulan. Jika dalam perusahaan terdapat sampai 10 orang salesman, perusahaan telah memiliki pelanggan sebanyak 7500 toko. Berarti, itu yang menjadi customer tetap yang masuk dalam daftar customer perusahaan. Toko-toko yang berada di luar daftar customer tetap biasanya oleh perusahaan dianggap sebagai idle outlet atau toko-toko yang sedang menganggur, dengan catatan tidak memperoleh pasokan produk-produk yang dihasilkan suatu perusahaan, dan oleh perusahaan akan dijadikan sebagai calon-calon pelanggan produktif yang harus di-cover oleh salesman. Memperhatikan perhitungan di atas, toko yang ada di kota Surabaya, misalnya, ternyata cukup banyak. Toko yang jumlahnya banyak dan adanya harapan pemiliktoko untuk mendapatkan pasokan barang dari perusahaan, menjadi pesona bagi perusahaan maupun orang-orang yangingin membuka toko sebagai penghasilan utama. Pihak perusahaan menginginkan pertumbuhan toko yang pesat untuk penyebaran produk-produknya dan orang-orang yang terPHK, pensiunan, atau orang yang menjadikan toko sebagai penghasilan utama; mengharapkan perusahaan-perusahaan memberikan “kredit” melalui parasalesmannya. Perusahaan menginginkan produk-produknya dijual atau dipajang dengan merata di tiap penjuru tempat untuk mengimbangiiklan yang ditayangkan di televisi. Sebagai kompensasi, pemilik toko mengharapkan bantuan kepada perusahaan untuk segera mengirim barangnya jika produk itu telah menjadi produk yang laku di pasaran. Dari adanya kepentingan yang saling membutuhkan akhirnya timbul hubungan yang harmonis antara pihak perusahaan dan pemilik toko. Bentuk kerja sama itu bisa jadi melalui program-program yang dilaksanakan oleh perusahaan dan disambut dengan antusias, karena kompensasi yang diberikan oleh perusahaan cukup lumayan untuk pemasukan bagi toko.

Perusahaan saat ini telah mempraktekkan cara pendistribusian secara singkat dari perusahaan langsung ke toko grosir dan toko retail. Cara ini dilakukan untuk mengantisipasi banyaknya pesaing yang telah tidak menggunakan saluran distribusi yang layak, seperti dari perusahaan ke distributor, ke agen, ke toko grosir, dan toko retail. Tapi langsung memperpendek saluran distribusi dengan tujuan mempercepat tersedianya produk ditoko-toko paling bawah atau retailer, sehingga produk-produk perusahaan segera dibeli oleh konsumen. Perusahaan mengejar target penjualan dengan menggunakan iklan, sedangkan biaya iklan sangat besar. Bila produk tidak cepat sampai ke toko retail dan konsumen tidak mendapatkan setelah mengetahui dari iklan, berapa banyak kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan. Contoh jelas yang pernah saya temui, yaitu ketika peluncuran pertama Rexona Cofidence. istri saya mencari barang tersebut di toko. Tentunya ia tertarik setelah mengetahui iklan di televisi, tapi barang tersebut tidak pernah didapat sampai berminggu-minggu. Setelah saya tanyakan kepada bagian pemasaran ternyata produk itu baru diluncurkan di wilayah Jabotabek. Hebatnya iklan melalui televisi dapat ditonton pemirsa di seluruh tanah air. Berapa kerugian yang harus ditanggung oleh perusahaan karena kehilangan kesempatan untuk menjual produk tersebut di luar Jabotabek. Mempercepat pendistribusian disini amat penting dan toko sangat berperan untuk membantu memajang atau menyediakan produk-produk yang dimaksud. Keberadaan toko akhirnya menjadi penting bagi perusahaan. Dengan demikian, akan terjadi hubungan yang saling menguntungkan.

dan keuntungan – keuntungan lain nya akan kami paparkan jelas dihalaman selanjutnya. dari pembahasan kedua nanti kita bersama akan mengetahui hubungan antara Toko dan Perusahaan serta keuntungan – keuntungan nya.

Buat Minimarket Sendiri ?

Buat Minimarket Sendiri ?

buat-minimarket-sendiri-rajarakminimarket.comRAJARAKMINIMARKET.COM – Saat ini, bisnis ritel makin menjamur. Fenomena ini terlihat dari banyaknya minimarket yang semakin tersebar di banyak tempat. Meningkatnya konsumsi masyarakat menjadi pemicu bisnis ini makin banyak pelakunya. Meski begitu, bisnis ritel ini tetap menjanjikan.
Karena banyaknya pesaing, Anda harus memiliki strategi khusus jika ingin terjun di bisnis ini dengan membuka minimarket sendiri untuk menghemat biaya investasi. Berikut beberapa hal yang harus Anda perhatikan.
Investasi
Investasi yang dikeluarkan untuk membuka minimarket sangat fleksibel. Pastikan, modal yang Anda siapakan cukup untuk membuat gerai, display dan juga belanja barang.
Apabila Anda telah punya lokasi sendiri, tentunya modal yang Anda keluarkan dapat ditekan. Misalkan, Anda ingin memiliki minimarket yang persediaan barangnya setara ritel ternama seperti Indomaret atau Alfamart Anda dapat menggelontorkan Rp 50 juta untuk membeli barang.
Pilih lokasi yang tepat
Pastikan lokasi yang Anda pilih strategis dan mudah di akses. Lokasi yang Anda pilih lebih baik berada di pinggir jalan ramai, lebih baik di pertigaan atau perempatan. Lokasi di gerbang masuk kompleks juga cukup baik. Ingat, lokasi sangat menentukan keberhasilan bisnis Anda.
Produk yang dijual
Agar keuntungan yang diperoleh maksimal, produk yang dijual harus menyesuaikan kebutuhan konsumen di sekitar lokasi. Jika minimarket Anda berada di kawasan perumahan menengah jualah produk makanan-minuman dan juga kebutuhan sehari-hari dengan harga murah.
Jika lokasi usaha ritel berada di kawasan mewah, jualah produk yang berkelas. Kalau perlu, Anda juga menjual produk impor yang akan membuat minimarket Anda makin berkelas.
Pelayanan konsumen
Pastikan minimarket yang Anda kelola memberikan pelayanan lebih dibanding kompetitor yang ada. Misalkan, tawarkan layanan antar barang untuk penjualan dalam jumlah tertentu. (as/dari berbagai sumber)
Sumber : Ciputraentrepreneurship .com
Usaha Minimarket, Berapa Dana yang Dibutuhkan?

Usaha Minimarket, Berapa Dana yang Dibutuhkan?

rak-minimarket-minimalisRAJARAKMINIMARKET.COM JAKARTA -Bisnis minimarket kini sudah menjadi pilihan bagi para investor yang ingin memutar uangnya di bisnis riil khususnya di sektor ritel. Banyak pilihan konsep minimarket ditawarkan oleh para perusahaan pemegang waralaba (franchisor) ke calon investor (franchisee).

Misalnya PT Sumber Alfaria Trijaya sudah lama menawarkan konsep waralaba minimarket. Membangun bisnis waralaba minimarket termasuk bisnis yang butuh modal yang tak sedikit.

Corporate Communication General Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) Nur Rachman mengatakan tak ada patokan persis soal total dana untuk membuka gerai 1 minimarket Alfamart. Namun untuk membeli waralaba Alfamart saja dibutuhkan dana hingga Rp 400 juta/gerai. Investasi itu, di luar lahan dan bangunan, maka untuk total dana yang dibutuhkan sedikitnya Rp 1 miliar.

“Kalau Rp 1 miliar tapi itu bisa di pinggiran Jakarta, tapi kalau seperti di BSD harga ruko di sana sudah miliaran, jadi tergantung tempat,” katanya saat berkunjung ke kantor detikcom, Senin (16/6/2014)

Investasi di luar bangunan dan lahan, berdasarkan simulasi alfamart dari situs resmi alfamartku.com, dana investasi terbagi dua kategori toko, untuk investasi 36 rak dengan luas 80 m2 maka investasinya Rp 380 juta. Kedua investasi 45 rak dengan luas bangunan 100 m2 maka investasinya Rp 400 juta

Investasi awal tersebut mencakup Biaya waralaba untuk 5 tahun, Renovasi lahan (konstruksi sipil; instalasi kelistrikan), Perijinan, Peralatan & AC, Cash register & sistemnya, Papan nama toko berikut displaynya dan Promosi & persiapan pembukaan toko

Selain membuka gerai baru, ada juga opsi melakukan Toko Take Over (TO) besar investasi yang dikeluarkan sekitar Rp 700-800 juta. Pembelian toko Alfamart yang sudah berjalan dengan harga paket yang telah ditentukan sudah termasuk franchise fee untuk 5 tahun (pemakaian merek), perizinan, peralatan toko & Goodwill.

Toko yang akan di take over harus sudah berjalan selama 1 tahun dengan sales harian antara Rp 10-13 juta dan dapat diperpanjang sewanya selama 5 tahun.

Kunci sukses dalam berbisnis minimarket adalah, antaralain Lokasi yang strategis, merek yang sudah dikenal luas, pelayanan toko yang baik, pilihan produk yang tepat & berkualitas, harga yang pas, display yang menarik, dan promosi yang berkesinambungan.

Nur Rachman menambahkan investasi di minimarket sangat tergantung lokasi dan traffict manusia yang tinggi. Saat ini persaingan bisnis minimarket sangat ketat, tak heran dalam satu lokasi ada beberapa gerai minimarket dengan merek yang berbeda. Selain itu, di beberapa daerah ada kebijakan pembatasan gerai minimarket.

“Ada beberapa wilayah yang memang tertutup untuk minimarket,” katanya.

Proses persiapan membuka gerai minimarket dari mulai persiapan seperti usulan lokasi, hingga disetujui, sampai beroperasi setidaknya dibutuhkan waktu kurang lebih hingga 3 bulan. Para calon investor harus mengantre proses seleksi oleh PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.

Terkait usulan lokasi, calon investor harus menyampaikan usulan lokasi gerai yang akan dibukanya. Selain data pribadi, calon investor harus menyampaikan data usulan lokasi (ruko, rumah,tanah kosong) termasuk ukuran detil seperti panjang, luas, lebar, bangunan, termasuk status lahan apakah milik sendiri atau sewa. Soal lokasi akan sangat menentukan tingkat kecepatan pengembalian modal calon investor.

“Balik modal berdasarkan pengalaman maksimum 3 tahun, 22 bulan paling bagus,” timpal Regional Corporate Communication Manager PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk Firly Firlandi.

sumber : detik.com

Kenapa Disiplin Lebih Penting daripada Motivasi

Kenapa Disiplin Lebih Penting daripada Motivasi

TOM DENHAM

Ada banyak masalah didalam sebuah  motivasi :

1. Motivasi cepat berlalu

Motivasi datang dan pergi sesukanya. Efeknya mungkin tidak akan terasa sampai weekend, akhir hari, atau bahkan hanya bertahan sampai Anda selesai membaca sebuah blog post. Benar-benar cepat berlalu.

2. Motivasi bersifat situasional

Motivasi biasanya berdasarkan pada kondisi Anda sekarang. Bagaimana perasaan Anda? Jika Anda tidak tertarik untuk melakukannya, maka Anda akan meninggalkannya. Anda tidak diharuskan untuk melakukannya, karena Anda memang sedang tidak mau!

Tapi kemudian Anda tidak melakukannya dan makin lama merasa makin malas mengerjakannya.

3. Motivasi ada di mana saja

Ke manapun Anda pergi, Anda melihat orang-orang mencoba untuk termotivasi melakukan sesuatu, untuk membuat perubahan. Mereka akan membaca, menonton sesuatu, atau menghadiri sebuah konferensi untuk menjadi ‘termotivasi’, Hal itu tidak membuat mereka ‘beraksi’.

“Saya termotivasi untuk melakukan hal ini.” “Saya termotivasi untuk melakukan hal itu.” Berhentilah termotivasi dan lakukan sajalah! Anda tidak butuh motivasi, Anda butuh disiplin!

Disiplin benar-benar berbeda dengan motivasi.

1. Disiplin bersifat konsisten.

Konsistensi dalam disiplin adalah yang membuatnya disebut disiplin. Anda keluar dari rumah dan melakukannya, hari demi hari.

2. Disiplin menjadi kebiasaan.

Disiplin tidak terjadi begitu saja. Disengaja dan diulan-ulang. Setiap hari.

3. Disiplin jarang ditemukan

Disiplin memang tidak terdengar menyenangkan, tapi inilah cara Anda mendapatkan hasil.

Motivasi adalah awalnya, tapi jika tidak dipadukan dengan disiplin, biasanya akan hilang dan berubah menjadi penyesalan ketika Anda menyadari ternyata Anda belum melakukan apapun.

Bagaimana cara agar bisa lebih disiplin?

1. Buanglah alasan-alasan Anda.

Semua alasan itu sangat menggangu. Setiap alasan yang Anda miliki, buanglah sejauh-jauhnya.

2. Ciptakan rutinitas

Jangan menunggu rutinitas ini kebetulan terjadi. Saat Anda sedang mendisiplinkan diri, sama halnya saat memprogram sebuah robot. Tidak ada emosi yang terlibat. Sesederhana “Jika ini.. maka.. itu”.

Karena itulah sebuah perencanaan sangat krusial. Anda tidak perlu menentukan apa yang harus Anda lakukan setiap bangun pagi. Anda tidak perlu memilih dari 100 keputusan yang bisa diambil. Anda memutuskan satu kali untuk menjalankan rencana tersebut dan bangun setiap pagi untuk melaksanakannya. Anda sudah memutuskan dan akan menjalankannya. Anda tidak perlu memutuskan apa-apa lagi, Anda hanya perlu melakukannya.

3. Putuskan bahwa hal ini benar-benar bernilai

Tentu, membuat keputusan awal akan sangat sulit.

Tanyakan pada diri sendiri, seberapa Anda menginginkannya? Anda tentu harus mengorbankan sesuatu. Jika Anda benar-benar menginginkannya, maka pastinya hal tersebut sangat bernilai. Jika Anda memutuskan hal tersebut bernilai untuk Anda, maka…

4. Berinvestasilah di dalamnya.

Uang memang memiliki cara untuk mengatur prioritas Anda. Di manakah Anda menghabiskan kebanyakan waktu Anda? Lihatlah ke mana Anda paling banyak menghabiskan uang. Mungkin ada korelasi pada keduanya.

Berinvestasilah dalam apapun yang ingin Anda lakukan. Buatlah keadaan apabila Anda tidak mencapainya menjadi sesuatu yang menyakitkan.

Ada seseorang yang memulai tantangan mendapatkan perut sixpack, ia memberi tahu temannya bahwa ia akan memberikan $500 pada orang yang paling ia benci, musuh bebuyutannya.

Tentunya, setiap pagi ia akan berpikir sebagaimana kesalnya memberikan uang $500 pada orang yang paling dibencinya.

Setelah dua minggu pertama, ia sudah memiliki momentum yang cukup sehingga tidak membutuhkan motivasi lagi, tapi harus sangat yakin bahwa pada minggu-minggu pertama investasi tersebut cukup kuat untuk membuat disiplin menjadi prioritasnya.

Berinvestasilah pada tujuan Anda. Bertaruh atau sewalah seorang pelatih, tapi berinvestasilah pada sesuatu yang benar-benar berarti bagi Anda, dan akan membantu untuk mengubah prioritas sesuai yang Anda mau.

5. Teruslah melakukannya

Saat Anda benar-benar ingin menyerah, jangan berhenti. Teruskan. Disiplin tidak bergantung pada perasaan Anda. Hal ini akan tetap berjalan walaupun seberapa jeleknya mood Anda.

When you think you are done, you’re only 40% of what your body is capable of doing. That’s just the limit that we put on ourselves. – David Goggins

6.  Just tell your brain that you will do it

Hilangkan otak Anda dari cara pikir Anda. Pikiran Anda sangat-sangat menggangu. ‘Dia’ akan memberitahu Anda segala hal yang tidak bisa Anda lakukan karena ingin memproteksi dirinya sendiri. ‘Dia’ mau main aman saja. ‘Dia’ ingin tetap nyaman.

Sedangkan, badan Anda akan duduk diam dan tidak mengatakan apapun, walaupun dia tahu bahwa mampu melakukan triathlon, marathon, memanjat gunung, dan mendapat six pack jika Anda memberinya kesempatan.

Suruhlah pikiran Anda diam dan lakukan saja. Turn off otak Anda.

Saat otak Anda mengatakan bahwa hal tersebut mustahil, katakan padanya,

Terima kasih, tapi saya tetap akan melakukannya.

Ya, mungkin ini akan berakhir dengan sebuah argumentasi dengan diri sendiri, tapi lakukan sajalah!

7. Pakailah sepatu Anda, dan berjalanlah keluar dari rumah

Jika tidak ada hal lain, bersiaplah dan keluarlah melalui pintu.

Rumah, ruangan, dan semua tempat adalah benteng pertahanan yang terkuat. Jika Anda bertahan didalamnya, maka Anda tidak akan pernah pergi keluar.

Cobalah memulai. Sadari hal-hal lain disepanjang perjalanan. Dengan melangkah keluar dari pintu. Anda sudah memenangkan setengah pertempuran.

Anda tidak membutuhkan inspirasi lain. Anda tidak membutuhkan motivasi apapun. Anda membutuhkan lebih banyak disiplin dan Anda perlu memulainya sekarang.

Sumber : starupbisnis