Mendag Gobel Larang Penjualan Miras di Minimarket

Mendag Gobel Larang Penjualan Miras di Minimarket

Mendag Gobel Larang Penjualan Miras di Minimarket, Ahok: Kita Ngikut Saja

Rachmat Gobel

Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) menekankan minuman beralkohol diizinkan dijual di minimarket Jakarta dengan syarat kadar alkohol kurang dari 5 persen. Akan tetapi, Menteri Perdagangan Rahmat Gobel melarang peredaran minuman beralkohol di seluruh minimarket dalam negeri. Bagaimana tanggapan Ahok?

“Nggak tahu. Kalau Menteri Perdagangan begitu ya kita ngikut saja,” ujar Ahok sebelum meninggalkan Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (22/1/2015).

Suami Veronica Tan tersebut belum dapat memastikan apakah kelak minuman beralkohol di minimarket akan dilarang peredarannya atau tidak. Yang pasti dirinya menegaskan akan mengkaji dan tunduk pada aturan pemerintah.

“Kita ngikut saja. Kita kan patokannya ngikutin aturan Mendag. Selama ini kita ngikutin Menteri Perdagangan kan,” lanjutnya.

Larangan penjualan minuman beralkohol di bawah 5 persen tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Di situ disebutkan selutuh minuman yang mengandung alkohol, termasuk bir harus ditarik peredarannya dari minimarket.

Akan tetapi, penjualan itu tetap diperbolehkan bagi supermarket atau hipermarket. Sementara itu, sebelumnya Ahok memperbolehkan penjualan minuman beralkohol dengan aturan di bawah 5 persen mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) nomor 8 tahun 2007 tentang Penertiban Umum.

“Saya tekankan, maksimum yang boleh di minimarket itu (alkohol di bawah) 5 persen. Itupun yang belinya mesti tunjukin KTP umur 18 tahun ke atas,” ujar Ahok usai menanggapi pernyataan Fraksi PKS dalam rapat paripurna di DPRD DKI, Jl Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (20/1/2015).

Ahok menegaskan penjualan miras di minimarket diawasi dengan ketat dan selektif. Bahkan lokasi minimarketnya juga harus jauh dari sekolah dan tempat ibadah.

(Sumber : detik.com)
Customer Genius: Bisnis Fokus pada Pelanggan

Customer Genius: Bisnis Fokus pada Pelanggan

costumer geniusPeter Fisk dengan konsep “genius” selalu mendorong kita untuk berpikir dari luar ke dalam (outside – in). Salah satu faktor yang berada di luar perusahaan adalah pelanggan. Maka wajarlah jika seorang marketer genius harus terlebih dahulu memahami pelanggannya sebelum bergerak menyusun strategi pemasaran internal perusahaan. Buku Customer Genius lahir sebagai jawaban supaya marketer bisa membangun bisnis yang fokus pada pelanggan.

Konsumen menyukai produk/merek yang mengerti mereka. Levi’s bisa memenangkan hati pelanggan tingkat middle-up dari yang sebelumnya hanya populer di kalangan pekerja tambang. Celana yang tadinya diciptakan dan didesain untuk tahan kondisi ekstrem dengan bahan yang kuat dan kasar, kini bisa menembus pasar internasional dan bahkan menjadi ikon busana jeans dunia. Levi’s adalah customer genius.

Zara adalah merek fashion yang berhasil mencoba beradopsi di berbagai pasar yang berbeda-beda. Di Spanyol, Zara adalah merek fashion dengan harga murah, tapi di Amerika Serikat, Zara menjadi merek dengan harga premium. Sementara di Inggris, Zara adalah merek dengan harga sedang. Kini Zara sudah menjadi salah satu merek terbesar industri fashion dengan omzet sekitar £3 miliar dan mempekerjakan 40.000 karyawan.

Pelanggan kini jauh berbeda dan cenderung individual. Mereka lebih tajam dan lebih demanding. Contoh berapa ratus tahun lalu, pembeli mobil baru sudah lebih dari bahagia jika membeli mobil Ford tipe T, model yang sulit berubah selama bertahun-tahun dengan warna cukup hitam saja. Kini coba saja lihat tuntutan para pembeli mobil mulai dari warna, tipe mesin, boros/iritnya bahan bakar, sampai program kredit yang disediakan.

Langkah Awal Genius Menangani Pelanggan
Bagaimana marketer bisa menangani pelanggannya dengan genius? Dimulai dengan memahami pasar dan pelanggannya, seorang marketer genius harus sadar bahwa pelanggannya adalah seorang manusia juga, sama seperti dirinya. Mereka mempunyai kebutuhan, keinginan, ekspektasi, dan aspirasi yang berbeda-beda.

Pelanggan jadi semakin demanding dalam setiap pembelian, ekspektasi jadi semakin tinggi, dan loyalty jadi semakin langka. Pelanggan kini semakin emosional tapi juga semakin pintar (educated). Mereka tahu benar apa yang mereka inginkan dan hanya menginginkan yang terbaik. Mereka menjadi semakin unik dan tak ingin diperlakukan sama seperti pasar massal dahulu. Kini pelangganlah yang mempunyai kendali lebih di pasar. Perusahaanlah yang semakin membutuhkan pelanggan, maka sebaiknyalah perusahaan mulai bekerja sesuai dengan pelanggannya.

Perusahaan juga harus memahami dunia pelanggan; tentang bagaimana agenda mereka, apa saja yang mereka ingin lakukan, permasalahan apa saja yang mereka miliki, apa yang bisa membuat kehidupan mereka menjadi lebih baik, solusi apa yang tepat bagi mereka, dan lainnya. Pelajarilah pelanggan Anda dan mulailah berpikir melalui kacamata mereka.

Tiap-tiap pelanggan juga mempunyai syarat yang berbeda-beda. Seorang marketer genius harus bisa memahami bahwa pelanggan akan membeli jika perusahaan bisa mengimbangi timing dan kondisi dari si pelanggan. Selain itu, pelanggan juga ingin membeli atau melakukan sesuatu dengan mudah dan nyaman.

Membangun Bisnis Fokus pada Pelanggan (Customer Business)
Customer genius menawarkan suatu blueprint bagaimana membangun bisnis yang fokus pada pelanggan (customer-centric) dengan bantuan tools seperti 10 dimensi dari bisnis yang fokus pada pelanggan (10 dimensions of the customer business), yang sering juga disebut 10 building blocks.

Dimensi 1 – customer vision: Peter Fisk sebagai penulis Customer Genius mengajak kita untuk bisa mempunyai visi ke depan akan seperti apa pelanggan kita. Seorang marketer genius harus mempunyai visi tentang pelanggannya. Sebuah visi pastilah harus mempunyai tujuan, dan bersamaan dengan itu si marketer juga membangun dan menyesuaikan merek. Visi perusahaan dan merek harus mengalir sejalan dengan kondisi pelanggan.

Dimensi 2 – customer strategy: marketer genius harus masuk ke dalam tahap strategi, ia akan menyusun dan memahami bagaimana segmentasi pelanggannya, dan bagaimana mengelola tiap-tiap segmen pelanggan tersebut. Seorang marketer genius harus tahu bagaimana strategi menyasar tiap segmen untuk mendapatkan profit darinya.

Lebih jauh lagi strategi yang disusun juga harus mencakup strategi untuk menarik pelanggan baru, melayani pelanggan sesuai segmennya masing-masing, plus mempertahankan (retain) pelanggan yang sudah ada. Si marketer genius harus bisa mengidentifikasi dan menyasar pelanggan yang dianggap paling profitable sekaligus mengerti perbedaan antara bisnis yang fokus mengakuisisi pelanggan atau me-retain pelanggan.

Dimensi 3 – customer insight: seorang marketer genius diingatkan bahwa ia harus mempunyai pengetahuan dan insting yang tajam mengenai pelanggannya. Ia harus selalu memperkaya insight yang lebih dalam soal pelanggannya. Sebagian besar perusahaan diperkuat oleh laporan riset dan kelengkapan data tentang pelanggan. Seorang marketer genius harus bisa mengubah informasi tersebut menjadi aksi nyata bagi pelanggan.

Dimensi 4 – customer propositions: marketer genius memahami bagaimana perusahaan bisa mengajukan penawaran pada pelanggannya. Maksudnya di sini adalah dalam konteks apa penawaran itu diajukan pada pelanggan, dan sesuaikah dengan konteks si pelanggan sendiri. Perusahaan dan merek harus bisa mengajukan penawaran yang tepat dan dengan cara yang tepat pada pelanggannya.

Dimensi 5 – customer solutions: seorang marketer genius juga harus bisa memberikan solusi pada pelanggannya. Solusi sendiri bisa tercipta lewat berbagai cara, seperti berkolaborasi dengan para pelanggan dan lewat inovasi.

Dimensi 6 – customer connections: seorang marketer yang genius harus bisa menciptakan dan memanfaatkan koneksi yang ada supaya tercipta kolaborasi dengan pelanggan untuk menemukan solusi yang inovatif. Selain koneksi, si marketer juga harus bisa melihat dan memahami bagaimana jaringan yang terbentuk antarpelanggan, plus membangun dan memanfaatkan juga koneksi melalui jaringan media, channels, dan mitra.

Dimensi 7 – customer experiences: dimensi ini menuntut si marketer mampu menciptakan pengalaman (experience) yang baik sekaligus unik bagi para pelanggannya. Jika perusahaan sudah bisa bermain di tingkat emosional pelanggan, barulah tercipta peluang untuk menciptakan pengalaman yang lebih dalam. Pengalaman pelanggan ini haruslah berkesan supaya pelanggan bisa berlanjut ke tahap selanjutnya, seperti menyebarkan pesan pada orang lain, melakukan repeat buying, dan yang paling bagus adalah menjadi pelanggan yang loyal.

Dimensi 8 – customer service: perusahaan harus bisa men-deliver pelayanan pelanggan (customer service) yang mumpuni. Di sini marketer harus menguasai bagaimana menyampaikan pelayanan yang benar kepada pelanggan, serta bagaimana pelayanan tersebut bisa di-customized sesuai kebutuhan dan keinginan setiap pelanggan. Seperti yang kita ketahui, tiap-tiap pelanggan mempunyai selera dan kebutuhan yang berbeda. Tugas seorang marketer geniuslah supaya perusahaan mampu memberikan pelayanan yang semakin personal kepada para pelanggannya.

Dimensi 9 – customer relationships: bagaimana marketer genius menciptakan, menjaga, dan mengelola hubungan (relationship) dengan para pelanggannya? Dalam hal ini perusahaan juga bisa bermitra dengan para pelanggan (partnership), menciptakan komunitas pelanggan agar tercipta interaksi yang lebih spontan dan mendalam, serta berperan sebagai penasihat yang andal bagi para pelanggannya.

Dimensi 10 – customer performance: marketer genius bersama perusahaannya harus bisa mewujudkan performa yang baik dengan terus meningkatkan hal-hal yang bisa memberikan value pada pelanggan (value drivers). Marketer harus memahami customer metrics dan ROI dari semua investasi yang dicurahkan untuk pelanggan. Satu lagi yang tak kalah penting adalah dampak bisnis yang dijalankan terhadap pelanggan.

Dalam tahap ini sang marketer genius bekerja mengubah kepuasan menjadi loyalitas, dan lebih jauh lagi mengubahnya menjadi revenue dan profit. Seorang marketer genius harus bisa mengubah perusahaan yang memberi pelayanan yang baik menjadi perusahaan yang menguntungkan.

Memimpin Bersama dengan Pelanggan
Sebagai perusahaan yang genius dalam menangani pelanggan (customer genius), marketer bersama perusahaan serta merek harus bisa menjadi pemimpin dalam pasarnya. Mereka harus bisa menginspirasi semua orang di sekitarnya, muncul sebagai pemimpin bisnis di industrinya, serta menjadikan pelanggan sebagai champion dalam bisnisnya.

Hal yang tak kalah penting adalah menciptakan budaya yang tercermin dalam merek dan perusahaan supaya bisa menggerakkan semua orang dalam melayani. Perusahaan harus bisa menyesuaikan sumber dayanya dengan para pelanggan. Perusahaan harus menjadi struktur, simbol, serta menjadi cerita yang menginspirasi. Terakhir, perusahaan customer genius harus bisa menciptakan perubahan, menginspirasi, serta berevolusi bersama pelanggannya.

Demikian awal dari perusahaan yang genius yang selalu berorientasi pada pelanggannya (customer genius), harus dimulai dengan mendesain perusahaan dari luar (pelanggannya) ke dalam internal perusahaannya (outside – in). Mulailah dari pelanggan terlebih dahulu, ketahui dan pahami kebutuhan dan keinginan mereka, serta ekspektasi dan aspirasinya.

Ini berarti mulai dari kesepakatan siapa pelanggan perusahaan yang menjadi target, apa janji dan visi perusahaan terhadap pelanggan, serta totalitas dan pengalaman pelanggan seperti apa yang hendak diciptakan. Berangkat dari situ, barulah perusahaan mendesain sistem internalnya dengan lebih efektif.

(Sumber : www.marketing.co.id)

Kerangka Manajemen yang Mendorong LinkedIn Menjadi Perusahaan Senilai $20 Miliar

Kerangka Manajemen yang Mendorong LinkedIn Menjadi Perusahaan Senilai $20 Miliar

Linkedin raja rak minimarketBerikut ini adalah sharing Jeff Weiner, CEO Linkedin dalam acara First Round CEO Summit, tentang kerangka manajemen apa yang digunakan oleh Linkedin untuk bertumbuh.

Kebanyakan startup dimulai dengan ide dan semangat. Ide haruslah dicintai dan dikenali dengan baik oleh para founder yang nantinya membuat mereka bekerja sepanjang hari hingga malam hari. Tapi tanpa meletakkan dasar yang benar terhadap ide tersebut – seperti kombinasi dari tool yang benar, orang-orang dan protocol yang tepat – ide mereka tidak akan tereksekusi, dan mereka tidak akan mampu mencapai visi mereka

Sebelum Jeff Weiner (CEO Linkedin saat ini) menduduki posisi teratas di LinkedIn, ia bertanya pada seorang founder dan CEO Linkedin sebelum Jeff, Reid Hoffman tiga pertanyaan: “Bagaimana cara yang Anda inginkan dalam mengambil keputusan? Keputusan seperti apa yang ingin Anda buat? Dan, keputusan apa yang harus saya buat?” Hoffman menjawab: “Mudah saja. Itu adalah keahlianmu, kamu bekerja untuk itu.”

Mungkin rasanya seperti pergantian kepemimpinan sederhana, tapi sesungguhnya ini merupakan transisi CEO yang paling sukses dalam sejarah Silicon Valley. Hoffman tahu bahwa untuk membuat sesuatu hal bekerja, sebuah perusahaan memerlukan seorang pemimpin yang mampu mengambil keputusan secara jelas setiap harinya, dan ia benar. Weiner mampu memimpin LinkedIn hingga mencapai tahap IPO yang luar biasa, yakni mencapai $20 miliar di pasaran saat ini. Setelah membawa LinkedId hingga IPO, ia juga membagi banyak pelajaran manajemen yang luar biasa. Berikut adalah beberapa pemikirannya yang ia bagikan pada First Round Capital CEO Summit.

Angin dalam Pelayaran

Kebanyakan startup dimulai dengan ide dan semangat. Ide haruslah dicintai dan dikenali dengan baik oleh para founder. Sebab hal tersebut yang nantinya membuat mereka bekerja sepanjang hari hingga malam hari. Tapi, jika para founder juga tidak meletakkan dasar yang benar terhadap ide tersebut – seperti kombinasi dari tool yang benar, orang-orang dan protocol yang tepat – ide mereka tidak akan tereksekusi, dan mereka tidak akan mampu mencapai visi mereka. Dan, sayangnya, ini terjadi sepanjang waktu.

“Saya lebih suka mengibaratkannya sebagai ‘angin dalam pelayaran’. Perusahaan yang membangun terobosan dan sesuatu yang tidak terpikir orang lain,” ujar Weiner. Ini seperti berada di kapal pelayaran di bawah kondisi yang sempurna. Angin bertiup dengan arah yang benar. Segalanya terasa lancar. “Ketika itu terjadi, kontruksi Anda, kemampuan, kekuatan dan daya tahan tim Anda, juga kecakapan pemimpin tidak terlalu diperhitungkan. Semua orang akan merayakan bagaimana kapal bisa berlayar dengan cepat, karena adanya angin yang bertiup dengan benar. Dan Anda tidak lagi bisa melihat siapa yang ada di belakang. Tidak ada orang lain di sana.”

Tapi, perlu disadari jika kondisi pelayaran yang sempurna tidak bertahan selamanya. “Angin akan berganti arah, dan kapal lain mungkin saja muncul,” tutur Weiner. Sementara itu, jika tidak ada ide untuk perbaikan ke depannya atau merekrut tim terbaik, para pesaing kapal ini akan mengejar ketertinggalan mereka. “Pada saat mereka sudah dekat dengan Anda, itu pertanda Anda sudah terlambat. Itulah alasan mengapa Anda harus meletakkan dasar yang kuat di awal-awal hari. Anda harus mempersiapkan infrastruktur, proses dan orang yang tepat.”

Visi adalah mimpi yang dikejar oleh perusahaan. Itu yang menginspirasi orang-orang setiap harinya. Itu juga adalah suatu hal yang harus Anda perjuangkan

‘Visi dan Misi’ Lebih dari Sekadar Kata-kata di Poster

Weiner percaya, untuk mendapatkan ‘kapal’ yang bisa tetap melaju untuk mencapai tujuan, diperlukan kejelasan dan ketegasan visi-misi. Pernyataan tersebut semakin meneguhkan perusahaan-perusahaan agar memperkuat strategi dan tujuan mereka. Hal lainnya yang tak kalah penting, adalah menciptakan pemimpin yang bersifat “talk the talk” dan “walk the walk”. Ini demi menjaga keselarasan dan memastikan perusahaan bergerak ke arah yang benar.

Semuanya sudah terdengar bagus – tapi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana seorang CEO bisa menjalankan hal ini. Kerap kali, nilai-nilai perusahaan hanya terpajang pada poster-poster dan menjadi presentasi-presentasi di pertemuan. Tapi Weiner yakin, pemimpin yang baik, pastinya bisa membawa nilai-nilai tersebut pada kehidupan perusahaan mereka – melalui coaching, perancangan strategi yang tepat, tujuan yang jelas dan terukur.

Banyak orang yang bekerja dalam dunia teknologi, kerap kali bersinggungan dengan kata visi-misi, namun biasanya gagal dalam implementasinya. Weiner yakin jika pemaknaan terhadap keduanya bisa jelas, dan menghidupkan visi-misi tersebut tiap harinya dalam perusahaan, adalah kunci utama membangun perusahaan teknologi yang sukses.
kerangka pengertian manajemen visi dan misi perusahaan

“Visi adalah sebuah mimpi,” ucap Weiner. “Sebuah arah utama perusahaan. Itu juga merupakan hal yang menginspirasi orang-orang hari demi hari. Itu adalah sesuatu yang perlu untuk diperjuangkan.” Untuk LinkedIn sendiri, visi yang Weiner jabarkan adalah ‘menciptakan peluang ekonomi untuk setiap profesional’ – dimana ‘profesional’ mengacu pada satu di antara lebih dari 3,3 miliar angkatan kerja di dunia.

Di samping ada visi, juga ada misi; suatu cara yang diterapkan perusahaan demi mewujudkan visi. Bagi LinkedIn, misi berarti “menghubungkan para professional yang ada dan menjadikan mereka produktif untuk menuju kesuksesan’ – istilah ‘profesional’ di sini berarti pekerja-pekerja intelektual di perusahaan yang totalnya di seluruh dunia mencapai lebih dari 600 juta.

“Visi tidak secepat itu untuk dicapai. Ia seperti bintang di langit yang membutuhkan kerjasama tim dan mungkin lebih dari satu generasi untuk mencapainya. Sedangkan misi, dapat diartikan sebagai tujuan yang konkret dari suatu perusahaan yang bisa diukur dari sebaik apa mereka mencapai misi,” ujar Weiner. Sebagian besar perusahaan, termasuk startup, biasanya hanya memiliki satu di antaranya. Padahal, visi yang tidak berdasar pada nilai-nilai perusahaan, akan sulit mencapai purposenya, termasuk menginspirasi seluruh team.

Weiner menjadikan Google sebagai contoh utama dari sebuah perusahaan dengan visi-misi yang unggul dan efektif. Google muncul bukan hanya sebagai ‘mesin pencari yang cepat dan menawarkan laman-laman pertama yang terbaik’. Tapi Google adalah ‘mesin pencari yang mengatur informasi dunia serta bisa diakses secara universal dan itu membuatnya berguna’. Mesin pencari dan perusahaan lain perlu untuk memenuhi misi seperti Google. Itu adalah cara Google membangun tim yang solid, bukan tim bayaran semata. “Hal tersebut juga bisa dijadikan inspirasi agar Anda mendapat orang-orang unggul yang siap menjadi besar,” tambah Weiner.

Ubah Slogan Jadi Tindakan

Setelah perusahaan memahami core valuesnya, pimpinan diberi kebebasan merencanakan strategi untuk mewujudkannya. “Strategi dapat mengarahkan semangat berkompetisi agar mencapai tujuan Anda,” ucap Weiner. Weiner pun memberi contoh untuk merencanakan langkah yang akan Anda ambil dalam suatu perusahaan seperti permainan catur. Anda harus mengantisipasi pergerakan lawan, dan memutuskan bagaimana menggunakan pemikiran Anda agar bisa bermain lebih bagus dari mereka.

Strategi umbrella ini bisa dibagi-bagi menjadi beberapa objective dan pemimpin yang baik memberikan kejelasan bagaimana orang-orang di dalam organisasi bekerja bersama untuk mencapai goal yang diset per kuarter dan per tahun. Dengan semakin matangnya organisasi, aktivitas utama eksekutif senior adalah melakukan coaching dan merancang strategi,” ujar Weiner.

Apabila visi, misi, budaya dan values perusahaan kuat, maka otomatis perusahaan akan memiliki objective yang jelas untuk dicapai.

Weiner mengatakan bahwa kerap kali tim maupun eksekutif memperlakukan values dalam perusahaan hanya sebagai ‘plakat’ – dan membuat lelucon tentang hal itu seperti kartun Dilbert. Tapi, jika values yang ada justru dieskpresikan dengan candaan olok-olok, maka kepemimpinan yang ada pun kehilangan kredibilitas dan kemampuannya untuk memotivasi gerak perusahaan.
pengertian apa itu manajemen

Ini alasan mengapa penting untuk secara continue mengkomunikasikan values perusahaan. Weiner mengatakan, “Anda harus kembali lagi ke visi awal Anda, Anda harus mengulang misi. Anda harus menengok kembali strategi, objective dan prioritas utama Anda, dan luangkan waktu untuk merenungi siapa Anda dan apa yang ingin Anda budayakan.” Hanya dengan pengulangan yang konstan, orang akan mulai menyerapnya dan memahaminya. Dan, pada sebuah perusahaan yang berkembang pesat, Anda akan selalu disemangati dengan keyakinan baru, menjelma api obor yang menyala untuk masa depan.
Jeff-Weiner-CEO-Summit-pengertian-manajemen

LinkedIn: Menjadikan OKR lebih dari sekadar Akronim

LinkedIn mengelola timnya dengan sistem tracking-tugas yang disebut ‘Objectives and Key Results’ atau disingkat ‘OKRs’. Pertama kali dikembangkan oleh Andy Grove di Intel. Kemudian, strategi ini dipopulerkan oleh John Doerr dari Kleiner Perkins. Sekarang, singkatan ini dikenal hampir di seluruh Silicon Valley. Tapi, singkatan seperti ini dengan mudah diabaikan perusahaan-perusahaan. Bagi perusahaan-perusahan itu, tidak ada apapun tentang OKR yang terdengar menarik. Tapi bagi LinkedIn, OKR justru digunakan untuk menguatkan hubungan tiap pekerja dalam proses mencapai misi perusahaan.

Dalam manual Grove yang terkenal, ‘High Output Management’, ia memperkenalkan OKR dengan menjawab dua pertanyaan sederhana:

Ke mana saya ingin pergi?
Bagaimana saya tahu jika saya sudah di sana?

Pada dasarnya, apa tujuan saya, dan apa kunci utama yang harus saya lakukan untuk memastikan saya akan bergerak maju?

Ketika Anda merenunginya, pertanyaan-pertanyaan ini bisa begitu personal, sebab ini berbicara langsung mengenai bagaimana orang-orang menghabiskan waktu mereka setiap harinya. Pada akhirnya, setiap orang dalam satu organisasi harus memiliki OKR di setiap quarter. Karena membawa OKR ke dalam tim maupun organisasi, akan menciptakan keselarasan yang mengemas kekuatan dan efisiensi jadi satu.

OKR adalah tentang “sesuatu yang ingin Anda selesaikan selama periode waktu tertentu yang menuju pada tujuan pencapaian. Itu adalah suatu keadaan penting yang membuat pikiran Anda terbagi-bagi dengan porsi yang besar.” OKR akan menjadi semakin penting dengan semakin seniornya seorang karyawan. “Ketika Anda berada dalam posisi pemimpin, Anda harus mengirimkan pertanda pada seluruh unit organisasi jika OKR adalah hal penting,” ucap Weiner.

OKR memang tidak mudah dicapai. Harapan yang biasa-biasa saja lebih mudah diwujudkan dan dijangkau, tapi harapan seperti itu akan menjadikan orang, tim dan perusahaan tetap kecil dalam jangka panjang. Maka itu, OKR tidak boleh terlalu lunak. Mereka harus menjadi pemancar semangat di tiap masanya, tidak bergeser dari minggu ke minggu. Sepanjang garis tersebut, Weiner lebih suka jika ada anggotanya yang memahami tiga sampai lima makna OKR dalam diri mereka dalam masa tertentu. Sesuatu yang lebih selalu memiliki potensi tersendiri untuk menguatkan apa yang harus dilakukan.

Jika Anda gagal dalam mengurus ‘kapal’ Anda, Anda akan tenggelam bahkan sebelum sampai di tempat yang ingin dituju

Cara untuk Menjalankan Rapat Eksekutif yang Efektif

Tim eksekutif Weiner bertemu seminggu sekali selama tiga jam dan setiap enam minggu selama sehari penuh. Dan, dua kali setahun selama beberapa hari yang ditentukan. Setiap tingkat pertemuan, membahas tujuan dan ruang lingkup yang berbeda, dengan tujuan membimbing perusahaan pada tingkat mikro dan makro.

Pertemuan mingguan adalah membahas tentang update taktik secara umum, tentang bagaimana orang-orang menerapkan OKR dalam rencana kerja mereka, dll. Hal ini jelas bukan pengulangan atau rutinitas yang membosankan seperti daftar cucian yang berulang-ulang tiap minggunya. Sebaliknya, ini dimaksudkan untuk memberikan pandangan pada setiap orang terhadap apa yang mereka kerjakan dan memastikan jika mereka semua tetap beroperasi pada tujuan dan prinsip yang sama. Di atas ini semua, Weiner juga menyiapkan satu jam pada hari Senin dan Jumat untuk pendalaman strategi jika diperlukan. Dengan memisahkan taktik dari strategi, ia memastikan timnya tetap fokus dan berada di jalur benar tanpa harus terombang-ambing antara konteks jangka panjang dan pendek.

Weiner memulai rapat mingguan bersama staf ini dengan membiasakan timnya dengan kata ‘menang’. Sebelum memulai rapat bisnisnya, ia mengelilingi ruangan dan meminta setiap laporan pencapaian dari minggu sebelumnya untuk dibagikan. Ritual seperti ini berguna untuk melecutkan energi positif di awal rapat. Ini mencegah kecenderungan keluhan-keluhan yang mewarnai awal-awal rapat.

Ia juga menemukan jika dampak dari rapat rutin atau pertemuan semacam ini sama pentingnya dengan rapat-rapat di luar. Weiner mengatakan jika dia mendapatkan nilai yang sangat besar dalam menjaga kebersamaan dua jam dalam rapat, yang memungkinkan dia terhubung dengan timnya satu persatu dan mendiskusikan pikirannya. “Sebagai pemimpin, peran utama Anda adalah memberikan coaching dan merencanakan strategi, dan Anda tidak dapat melakukan salah satu di antara keduanya dengan baik tanpa adanya waktu untuk mengetahui apa yang terjadi di sekitar Anda.”

Selain menciptakan waktu untuk berpikir proaktif, Weiner percaya bahwa kesuksesan seorang manajer datang dari ‘kepedulian’ daripada ‘empati’. “Empati berarti menempatkan diri Anda seakan-akan merasakan apa yang dialami orang lain. Sedangkan kepedulian adalah memahami apa yang dialami orang lain dan melihatnya secara objektif, lalu membantunya dengan tindakan tepat.”

Weiner memberi contoh tentang seorang pengamat yang tengah mengobservasi seorang pria yang tengah dihantam batu besar. Seorang pengamat yang berempati akan mencoba merasakan sesak yang dialami si pria dan tidak melakukan apa-apa. Tapi, seorang pengamat yang penuh perhatian dan kepedulian, akan memahami rasa sakit pria tersebut, sembari berpikir untuk mengambil tindakan. Tugas seorang pemimpin yang terlatih adalah memahami keadaan dari sudut pandang orang lain dan menggunakan pemahaman itu untuk memperbaiki situasi.

Kesimpulan

IPO yang luar biasa tidak datang begitu saja dari tempat antah berantah. IPO Linkedin mampu membungkam prediksi para analis dan masyarakat terhadap Linkedin. Dan, sampai sekarang, orang-orang masih membicarakan tentang itu.

Ketika ditanya bagaimana ia membuat semua hal ini menjadi mungkin, terutama untuk perusahaan yang kurang terkenal. Weiner menjabarkan sarannya seperti yang ia katakan di atas. Values (nilai), Compassion (kepedulian) dan kepemimpian yang bersatu untuk mencapai gol.

Persoalannya adalah sebagian perusahaan mengabaikan konsep dan values, memisahkannya dari pekerjaan mereka, yang sesungguhnya dibutuhkan untuk menyelesaikan apa yang mereka kerjakan setiap harinya. Ini adalah kesalahan, Weiner mangatakan – jangan sampai terlena dalam mewujudkan objective Anda hingga tidak menyadari jika target IPO sudah jauh dari harapan. Sederhananya, jika Anda gagal dalam mengurus ‘kapal’ Anda, Anda akan tenggelam bahkan sebelum sampai di tempat yang ingin dituju.

(Sumber : www.startupbisnis.com)

Margin Rendah, Rahasia Sukses Jeff Bezos Membangun Amazon

Margin Rendah, Rahasia Sukses Jeff Bezos Membangun Amazon

Bezos2

Dua kata: margin rendah. Itulah rahasia kesuksesan dari Amazon. Ketika kita mengatakan itu, kedengarannya itu gila. Tapi, Jeff Bezos melihatnya sebagai keuntungan yang kompetitif. Amazon sudah menghabiskan satu dekade dan setengahnya demi membuat margin rendah menjadi suatu hal yang menguntungkan. Menurut Bezos, ketika Anda tidak terobsesi atau hanya fokus dengan margin yang tinggi, akan ada disiplin yang melekat tentang bagaimana Anda beroperasi. Namun Bezos pun tidak mengatakan bahwa margin tinggi hanya untuk mereka yang pemalas. Tapi, Anda bisa menyebutnya sebagai poin penting dari sebuah kebanggaan. Semua orang bisa bertahan di margin yang tinggi. Namun, butuh orang yang sejatinya bersungguh-sungguh untuk bertahan dan berkembang di margin rendah. Dan, Jeff Bezos adalah orangnya.

Bezos cukup jelas dan tegas menjelaskan mengenai dikotomi margin tinggi dan margin rendah. Dalam wawancara dengan Wired, ia mengatakan; “Ada dua cara untuk membangun perusahaan yang sukses. Pertama adalah berkerja sangat-sangat-sangat keras agar bisa meyakinkan konsumen untuk membayar margin yang tinggi. Kedua, adalah dengan berkerja sangat-sangat-sangat keras untuk menawarkan margin rendah pada para konsumen.” Dan, ia adalah orang yang memilih opsi yang kedua itu. Mengapa? Karena ia percaya, dengan menawarkan kemungkinan harga terendah, akan membuatnya bisa menarik basis konsumen yang besar. Berikut ini adalah skema margin dua banding dua dari Jeff Bezos:

lowmargin

low margin

Jeff sudah memilih posisi di atas kiri dari skema matriks – margin rendah dengan volume tinggi. Ia sudah membuktikan jika ada bisnis besar yang bisa berkembang di sana. Ini jelas lebih baik dibanding margin rendah dengan volume yang juga rendah; itu salah satu jalan menuju kehancuran. Ia menggambarkan keadaan dunia teknologi sekarang berfokus pada margin tinggi, dengan volume bisnis yang rendah hingga membuat perusahaan bertarung habis-habisan untuk memenangkan perhatian konsumen, dan menjual perangkat lunak bermargin tinggi atau perangkat keras pada jumlah konsumen yang relatif kecil. Padahal menurutnya, kemampuannya untuk menunjukkan profitabilitas margin rendah, membuatnya bisa mengumpulkan basis konsumen terbesar. Kemampuan untuk mengeksekusi margin rendah telah menjadikan Bezos mampu memperbesar kombinasi produknya dan menarik konsumen yang bahkan lebih besar basisnya.

Jadi, apa yang diperlukan untuk bertahan di pilihan margin rendah? Jawabannya adalah efisiensi. Efisiensi yang luar biasa. Bezos bahkan sudah terobsesi dengan efisiensi sejak hari pertama. Dan, efisiensi tersebut tersebar hingga ke seluruh titik peruusahaannya. Bezos telah membangun sistem distribusi yang membuat Amazon bisa memberikan apapun di manapun (setidaknya di mana saja di Amerika) pada setiap waktu yang dimungkinkan untuk menghasilkan uang, walau sekecil apapun itu. Efisiensi itu telah memungkinkan Amazon untuk menawarkan Amazon Prime, yang menyediakan pelayanan gratis selama dua hari sembari tetap menghasilkan uang (baiklah, di sini kita ketahui jika Amazon Prime tidak benar-benar gratis, tapi ia telah mendekati konsumen hingga meningkatkan volume pesanan). Amazon juga benar-benar fokus dalam penurunan biaya terhadap pelayanan konsumen. Tapi itu tidak serta-merta berarti Amazon mengabaikan kebutuhan konsumen. Mereka hanya ingin bekerja keras untuk memuaskan konsumen dengan cara yang berbeda; yakni meminimalkan campur-tangan tenaga manusia sebisa mungkin. Sebagai gantinya, Amazon menawarkan pelayanan melalui online – di mana saat ini, Amazon menempati urutan pertama paling tinggi pelayanan dan promosi via internet.
jeff-bezos

Obsesi Bezos dengan efisiensi, mungkin bisa dilihat dengan jelas dalam Amazon Web Services (AWS). AWS adalah perpanjangan dari infrastruktur teknis Amazon itu sendiri (pengembangannya sendiri dibiayai dan dibawahi naungan Amazon). Bezos selalu bertekad untuk membuat AWS menyediakan buku-buku dengan cara yang sama – volume tinggi, margin rendah. Selain itu, Bezos tidak bersedia menggunakan ‘produk apa adanya’ untuk mendapatkan harga terendah. Harga yang rendah dengan kualitas tinggi telah membuat AWS menjadi tulang punggung mayoritas website besar di dunia saat ini, seperti Foursquare dan New York Times.

Jeff menegaskan bahwa; “hal terhebat yang bisa Anda lakukan adalah membuat kesalahan” dan, sebagai hasilnya, “Amazon mampu fokus pada cacat-cacat kecil dan memusnahkan mereka hingga ke akar-akar. Itu akan mengurangi biaya, karena segalanya akan bekerja”. Sepertinya Bezos benar, semuanya bekerja dengan baik. AWS kini telah menjadi bisnis yang besar, secara bersamaan juga meningkatkan efisiensi infrastruktur Amazon itu sendiri – ini seperti menyelam sambil minum air, kemenangan ganda.

Margin rendah tak selamanya sesuai dengan strategi yang dipilih setiap orang. Ini adalah bisnis yang keras, dan tak kenal ampun. Tapi, Jeff Bezos adalah tipe orang yang benar-benar mengenali model bisnis yang dipilihnya dan mampu menjalankannya dengan strategi yang sempurna. Dengan mengurangi biaya dan meningkatkan kualitas melalui obsesinya terhadap efisiensi, Amazon akhirnya bisa berdiri dengan memberikan pelayanan terbaik dengan harga yang minimal. Keadaan ini jelas sulit disaingi oleh banyak orang. Dan, tentunya itulah yang Jeff suka.

Tentu saja jika Jeff juga bertindak selayaknya konsultan bagi dirinya sendiri, Jeff harus jujur dan menunjukkan, memang, kuadran atas kiri pada skema di atas akan selalu menjadi hasil yang paling diinginkan. Matriks dalam skema tersebut adalah tak terkecuali. Kemampuan untuk memberikan volume dan margin tinggi seperti hadiah dari surga. Selalu ada alasan mengapa Apple menjadi perusahaan paling berharga di dunia dan memiliki $97 miliar dollar di bank. Mereka telah berhaisl memecahkan kode untuk meraih volume dan margin tinggi. Seperti juga Google (yang memiliki $44 miliar di bank) dan Microsoft (yang mempunyai $50 miliar di bank). Tapi, ketahuilah, ketika menyinggung tentang volume tinggi dengan margin rendah, Amazon adalah satu-satunya yang paling baik yang pernah ada.

(Sumber : www.startupbisnis.com)

5 (lima) Cara Mensukseskan Produk Baru Anda di Pasaran

5 (lima) Cara Mensukseskan Produk Baru Anda di Pasaran

5(lima) cara mensukseskan produk baru Anda di Pasaran

www.rajarakminimarket.com | Artikel membuka usaha atau toko

Membuka sebuah usaha dan menawarkan produk baru yang anda miliki tentu bukanlah sebuah tantangan yang mudah. Selain kualitas produk itu sendiri, masih ada banyak faktor lain yang bisa menentukan sukses atau tidaknya produk anda di pasaran. Salah satu hal terpetning ialah dikenalnya keberadaan serta fungsi produk anda dipasaran.

Banyak produk berkualitas yang harus gulung tikar dengan cepat bahkan ketika masih dalam masa promosi akibat kurang dikenalnya produk mereka di pasaran. Membangun permintaan pasar tidaklah mudah. Anda harus membuat produk anda dikenal banyak orang, membuat orang tertarik karena produk anda bisa menyelesaikan masalah dan mampu memenuhi kebutuhan mereka.

Bagaimanakah strategi yang tepat untuk membangun permintaan pasar akan produk baru anda? Simak beberapa tips berikut ini.
1. Mencari Customer. Tentukan Target Market

Walaupun produk anda masih dalam masa rencana persiapan dan belum siap digunakan, namun ada baiknya anda sudah memulai langkah untuk mencari customer. Cara ini bisa anda gunakan untuk menguji permintaan pasar (anda bisa mempelajari metodologi lean startup). Jika anda kesusahan untuk meyakinkan orang bahwa mereka membutuhkan produk anda, itu berarti produk tersebut tidak begitu berharga, tetapi jika mereka tidak sabar lagi untuk menunggu produk anda siap, berarti produk anda cukup berharga di mata mereka.

Pertama-tama, anda harus bisa menebak siapa saja customer yang akan menyukai produk anda. Anda bisa menguji hipotesis itu dengan bertanya ke berbagai jenis customer, termasuk mereka yang menjadi target pasar anda, dan gunakan feedback mereka untuk mempertajam fokus produk anda.

Di tahap akhir pencarian customer ini, anda seharusnya sudah memiliki ratusan customer yang bersedia menunggu peluncuran produk tersebut dan anda sangat memahami secara detil target customer anda ini.

 

2.Mengikuti Kemanapun Customer Pergi

Setelah anda mengetahui siapa saja customer anda, sekarang waktunya mencari tahu dimana mereka berkumpul. Anda bisa mengontak mereka secara satu per satu, tapi ini akan membuang banyak waktu anda. Sebaiknya, anda harus memahami dimana dan kapan customer anda ini berada di tempat yang sama agar anda bisa menghampiri mereka semua. Cara termudah untuk mencari tahu dimana mereka berkumpul adalah dengan menjadi salah satu bagian dari mereka.
3.Membuat Customer Menjadi ‘Marketer’ Anda

Setelah telah mempersempit target customer awal dan tahu bagaimana mendekati mereka, anda masih memiliki waktu sebelum produk anda meluncur untuk memastikan bahwa anda bisa meningkatkan peluang untuk mendapatkan customer. Channel marketing yang paling kuat untuk produk anda adalah word of mouth dari customer yang menyukai apa yang anda lakukan. Anda tidak bisa berada di omongan potensial customer, tapi anda bisa berada di omongan dari customer yang telah merasakan manfaat dari produk anda. Customer yang menyebarkan hal ini dari mulut ke mulut adalah marketer anda dan anda harus membantu mereka bagaimanapun caranya.
4. Menerapkan Tolak Ukur Dan Analisa Yang Jitu

Di saat anda masih belum meluncurkan produk, tetapi anda telah mengetahui siapa customer anda nantinya, bagaimana cara mendekati mereka dan bagaimana membantu mereka menyebarkan informasi tentang produk anda. Di sisa waktu yang anda punya, pastikan bahwa anda telah menentukan analytic yang tepat untuk membantu anda mengukur customer anda ketika anda meluncurkan produk. Apapun yang anda lakukan sebelum peluncuran adalah hipotesis dan anda harus bisa memverifikasikan atau membatalkan hipotesis ini secepat mungkin. Bahkan setelah anda meluncurkan produk, anda jangan pernah berasumsi bahwa customer anda adalah entitas yang statis bahwa keesokan harinya mereka adalah orang yang sama dengan hari ini. Mereka akan berubah seiring waktu, sama seperti anda, dan anda harus mengukur dan menyesuaikan ketika hal ini terjadi.
5. Luncurkan! Lauching Produk Anda

Setelah anda melakukan semua penelitian dan pengukuran dengan cara yang tepat, kini saatnya untuk melucurkan produk anda tersebut dan lihat seberapa berhasilkah efek dari seluruh rangkain persiapan yang anda telah lakukan sebelumnya.

Dengan persiapan yang matang, dan juga kerja keras yang anda terapkan dalam membangun permintaan pasar. Akan membuat produk anda dikenal masyarakat luas dan bersiaplah untuk menikmati buah kesuksesan hasil jerih payah usaha anda. Semoga Bermanfaat dan Semoga Sukses.

(Sumber : www.detik.com)

MEREK – Modal Utama Usaha

MEREK – Modal Utama Usaha

Merek-Modal-Utama-Usaha

Adakah usaha yang sukses, yang tidak didukung oleh merek yang kuat?” Sebagian besar dari kita pasti memikirkan beberapa, bahkan ribuan merek yang sukses di belahan dunia mana pun, akan mengambil kesimpulan bahwa tidak ada usaha yang sukses, yang tidak didukung oleh sebuah identitas merek yang kuat.

Beberapa dari kita tentunya menemukan bahwa ada beberapa usaha di Indonesia yang sukses merambah di tengah masyarakat, namun pemilik atau manajemennya tidak terlalu peduli dengan merek usahanya. Modal kesuksesan dari usahanya terletak pada keunggulan produk dan layanan yang mereka tawarkan. sehingga lewat mouth to mouth, mereka yang puas dengan produk dan layanan tersebut akan mempromosikannya. Di titik ini kita perlu berpikir dengan seksama. apakah hanya dengan sebuah produk dan layanan yang dapat diterima masyarakat. akan menjadi pondasi yang kuat untuk membangun sebuah usaha di masa yang akan datang?

Salah satu contoh mengenai besarnya peranan sebuah merek, dapat dilihat dari cerita tentang Coca-Cola, yakni bagaimana mereka membesarkan mereknya. Jika kita ingin membeli perusahaan Coca-Cola yang meliputi semua aset: tim kerja, produk, dan termasuk merek Coca-Cola itu sendiri, tentunya kita harus membayar mahal dengan nilai yang sangat tinggi. Namun, jika kita membeli perusahaan tersebut tanpa merek Coca-Cola itu sendiri, tentunya kita hanya perlu tanpa merek Coca-Cola itu sendiri, tentunya kita hanya perlu membayar dengan nilai yang jauh lebih kecil. Inilah peranan dari sebuah merek terhadap nilai dari suatu perusahaan.

Merek bukan hanya merupakan sebuah identitas dari produk itu sendiri. Merek juga merupakan visual yang berfungsi untuk mengkomunikasikan siapa kita dan produk apa yang ditawarkan kepada masyarakat. Kita semua tahu bahwa modal utama dari kesuksesan sebuah bisnis adalah diferensiasi yang unik. Namun sayangnya, kebanyakan pengusaha tidak dapat menemukan dan mengembangkan diferensiasi yang mereka tawarkan. Di sinilah merek menjadi kawan kita, yang sangat efektif untuk  menonjolkan diferensiasi dan keunikan yang ditawarkannya, apalagi jenis usaha yang kita geluti adalah usaha dibidang ritel dan atau kita ingin mewaralabakan bisnis kita tersebut kepada pihak lain.

Tentunya merek merupakan modal utama usaha waralaba karena ketika terjadi pengikatan antara franchisor dan franchisee dalam perjanjian antar kedua belah pihak, merek terdaftar yang dimiliki oleh Franshisor yang sebenarnya dipinjamkan untuk digunakan oleh franshisee selama kurun waktu masa perjanjian, disamping sistem (know-how) yang ditransfer oleh franchisor, agar franchisee dapat menjalankan operasional usahanya sesuai standar yang ditetapkan untuk diterapkan secara konsisten dan seragam.

Hal ini terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari. Mengapa kita membeli roti BreadTalk, sepatu Charles & Keith, makan di Mc Donald, atau berkunjung ke gerai-gerai Starbucks di seluruh dunia. Selama ini eksistensi merekmerek ini telah membangun identitasnya, bukan hanya kepada mereka sendiri, namun juga kepada konsumen dan pengguna produk itu sendiri.

Membangun suatu merek yang sukses membutuhkan kurun waktu tertentu. Merek merupakan sebuah sistem yang harus dibangun secara terencana dan sistematis. Kita harus memandang ini sebagai bagian dari investasi jangka panjang, bukan lagi sebuah biaya semata. Hal ini perlu dipahami benar oleh para pelaku usaha, khususnya pelaku usaha waralaba di mana pun mereka berada.

Salah satu faktor yang tak bisa dipungkiri lagi adalah peranan para kaum muda yang populasinya mencapai lebih dari 50% di dunia ini, khususnya di Indonesia, di mana rata-rata usia penduduk Indonesia adalah di bawah dari 30 tahun. Mereka cenderung menginginkan suatu perubahaan dan inovasi, serta terobosan yang terus menerus terhadap produk yang mereka inginkan. Hal lain yang tidak kalah penting adalah pertumbuhan kaum menengah signifikan di tengah perkembangan ekonomi Indonesia saat ini. Tentunya hal-hal ini merupakan faktor pendorong yang kuat yang menuntut eksistensi dari suatu merek.

Mereka mempunyai hasrat yang besar terhadap kekuatan suatu merek, dan mempunyai spending power yang kuat. Tentunya keunggulan merek-merek yang kuat yang akan mempunyai “tempat khusus” di ingatan mereka. Dengan akses komunikasi dan informasi yang begitu cepat dan terbuka saat ini, melalui jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, YouTube, dll, peranan sebuah merek semakin dominan dan tidak dapat dipungkiri merupakan tolak ukur kesuksesan di tengah pasar global.

Produk-produk Indonesia memiliki karakteristik yang unik, dan mempunyai potensi untuk go global, dimana kualitas dari produk-produk itu sendiri tidak kalah dibandingkan dengan produk luar negeri. Kami sering berinteraksi dengan pemilik merek lokal, maupun internasional dan menemukan bahwa merek-merek Indonesia juga akan sukses dan tidak kalah bersaing di pasar internasional jika ditangani secara profesional.

Di akhir kata, BreadTalk bukan saja merek roti BreadTalk berdiri sebagai simbol inovasi yang bergerak terus-menerus. Charles & Keith bukan saja berdiri sebagai penjual sepatu wanita yang terjangkau. Mereka merupakan simbol penyedia, dan teman wanita-wanita Asia untuk mendapatkan sepatu idaman mereka. Sebuah merek memberi nyawa kepada usahanya masing-masing. Jika kita dapat memberi “nyawa” yang berbeda kepada usaha kita, tidak dapat dipungkiri bahwa merek tersebut dapat menjadi daya tarik dan penggerak utama usaha tersebut. Jadi apakah Merek merupakan modal utama usaha waralaba? Kita sudah tahu jawabannya. R

 

(Sumber : MAJALAH RITEL INDONESIA)