Perbedaan Macam-macam Rak

Perbedaan Macam-macam Rak

Sebelum Anda menentukan rak yang akan anda beli, tentu anda ingin mengetahui jenis rak mana yang paling cocok untuk kebutuhan anda, sesuai dengan ukuran ruangan, ukuran produk, atau tinggi bangunan anda. Atau anda akan memutuskannya atas pertimbangan apakah bisnis anda adalah retail, midle marekt, grosir, atau gudang.

Jenis-jenis Rak Display / swalayan

Rak minimarket/ rak gondola / rak swalayan adalah bagian intergral dari bisnis minimarket. Peranan penting rak yang disebut juga gondola minimarket ini sangat penting untuk membangun visual merchandising yang baik. Minimarket sendiri adalah toko yang berukuran kecil (100m2 s/d 999m2). Menurut ukuranya Rak minimarket digolongkan menjadi beberapa bagian mulai dari yang tingginya 120 cm, 150 cm sampai dengan 170 / 180 cm.

Rak Minimarket

Jenis Rak minimarket sangat berbariasi tergantung tinggi ketebalan plat dan luas shelving. Rak minimarket standard INDOMARET mempunya standar dengan tinggi 120 cm, 150 Cm dan 180 cm dengan lebar shelving bawah 30 atau 35 cm dan shelving atas 25 dan 30 cm dengan ketebalan plat 0,6 mm rata-rata mampu menahan beban hingga 50 Kg, dan yang memiliki ketebalan 0,7 hingga 60 Kg. Sedangkan rak minimarket standard ALFAMART mempunyai standar tinggi yang sama dengan lebar shelving bawah 40 cm dan shelving atas 35 cm.

Rak Supermarket/hypermarket

Sedangkan rak supermarket / hypermarket mempunyai standar tinggi tiang antara 180 cm hingga 240 cm, dengan lebar shelving bawah 45 cm hingga 65 cm dan shelving atas 40 cm hingga 60 cm, dengan ketebalan tiang dari 0.8 mm hingga 1 mm dengan kekuatan beban per shelving bisa mencapai 150 Kg.
Dalam usaha minimarket Rak Minimarket memiliki peranan yang sangat penting yaitu memaksimalkan fungsi ruang. Memberikan kesan rapi dan teratur serta memudahkan pembuatan daftar barang.
Ada beberapa jenis rak gondola minimarket atau supermarket. sebut saja :
  1. Rak Single / wall = rak satu sisi yang biasanya diletakkan di sisi pinggir toko/minimarket
  2. Rak Double / Island = rak dua sisi yang biasanya diletakkan di tengah ruangan toko/minimarket
  3. Rak Single End = rak satu sisi yang biasanya diletakkan diujung baris depan atau belakang dari rak double
Dalam pemasangan rak gondola minimarket baik yang rak single atau rak double, ada 2 istilah yang harus diketahui, yaitu starting dan jointing
  • Starting adalah rak single atau rak double yang dipasang pertama kali dan merupakan rak awalan yang terdiri dari 2 tiang, setiap 1 baris rak memerlukan minimal 1 rak starting.
  • Jointing adalah rak single atau double yang dipasang setelah starting terpasang dan tinggal menyambungkan, jointing hanya membutuhkan 1 tiang saja dalam pemasangan.
Perbedaan istilah minimarket, supermarket dan hypermarket adalah di format, ukuran dan fasilitas yang diberikan. Contohnya :
  • Minimarket berukuran kecil (100m2 s/d 999m2)
  • Supermarket berukuran sedang (1.000m2 s/d 4.999m2)
  • Hypermarket berukuran besar (5.000m2 ke atas)
  • Grosir /  warehouse berukuran sangat besar (5.000m2 ke atas)
PROFIL PENULIS

PROFIL PENULIS

Home > Membuka Toko > Profil Penulis

 

New Picture

Fras. M. Royan lahir di Bangkalan, 15 Juli 1964. Lulus dari SMA Negeri X Surabaya, tahun 1984. Sebagai anak tertua dari tujuh bersaudara, ia terpaksa harus melupakan cita-cita untuk menjadi seorang dokter karena orang tua tak mampu untuk membiayai kuliah. Suatu hari, seorang saudara ipar datang menawarkan pekerjaan sebagai tenaga pemasar. Peluang pekerjaan itu disambutlah dengan antusias. Mulai tahun 1985 menjelajah keberbagai kota di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah sebagai salesman. Lebih dari seribu customer telah menjadi seperti saudara sendiri. Dari merekalah kekayaan pengetahuan untuk berwirausaha didapat.

Karena tidak puas dengan pengalaman yang didapat, sambil tetap bekerja sebagai seorang pemasar, ia memperdalam ilmu pemasaran di Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya dengan masa waktu 3 tahun, lebih singkat dari yang dijadwalkan. Di sela-sela kesibukan bekerja dan kuliah, ia menyempatkan diri pula mengikuti seminar-seminar pemasaran yang diadakan oleh Marketing Club Surabaya. Saat ini, selain tetap bekerja sebagai marketing eksekutif di suatu perusahaan, ia juga berpartner dengan seorang adik mendirikan usaha dagang yang menangani distribusi produk kosmetik. Pekerjaan yang dicintai selain di bidang marketing adalah bidang penulisan. Ketika SMA menulis artikel-artikel untuk remaja di majalah Mitra, Intan, dan Anita. Sekarang aktif menulis artikel-artikel pemasaran untuk tabloid Marketing.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

X. MEMBERDAYAKAN TOKO SEBAGAI BAGIAN DARI PEMASARAN

X. MEMBERDAYAKAN TOKO SEBAGAI BAGIAN DARI PEMASARAN

Home > Membuka Toko > Bab 10 

Memberdayakan Toko sebagai Bagian dari Pemasaran

ilustrasi-pemasaran

Toko sangat penting sebagai bagian dari pemasaran. Ini terlihat dari peran sertanya dalam menyerap sejumlah produk yang berasal dari berbagai perusahaan. Terutama untuk kategori produk-produk konsumsi yang penyalurannya menggunakan lembaga perantara sebelum produkitu sampai ke konsumen pemakai. Sayangnya, selama ini perusahaan kurang memperhatikan toko sebagai bagian dari mata rantai saluran distribusinya. Perusahaan lebih mementingkan kerja samanya dengan perusahaan distributor sebagai bagian penyalur “besar” yang menangani distribusi produk sampai ke konsumen. Begitu pula dalam pencapaian omzet penjualan, perusahaan jarans memberikan pelajaran kepada toko sebagai bagian yang selama ini aktif menjual produk-produknya. Perusahaan lebih sibuk dengan menyusun sales force yang besar dan lebih senang menghambur-hamburkan dana yang nilainya sampai miliaran rupiah hanya untuk kegiatan beriklan.

Pada akhirnya, pemilik toko merespons dengan cara “cenderung” menjual produk produk yang laku saja dibanding harus menu produk yang kurang laku. Pemilik toko lebih senang menanggapi salesman perusahan yang menjual produk dengan cara konsinyasi pada membelinya dengan cara tunai. Pemilik toko juga lebih suka bereaksi pada program-program yang diadakan perusahaan, seperti pajangan berhadiah, diskon potongan yang besar dan pemberian hadiah untuk pembelian sejumlah barang tertentu. Namun, semuanya tidak akan memberikan pelajaran berarti pada pemilik toko untuk mengelola tokonya lebih baik.

Kenyataan yang ada, toko-toko yang semula adalah harapan bagi perusahaan sebagai outlet untuk penyebaran produknya, berguguran satu persatu karena tidak dikelola dengan baik oleh Pemiliknya. Tugas dan tanggung jawab yang berat agar omzet Perusahaan tetap stabil adalah memberi Pelajaran kepada pemilik toko, dengan cara memberi pengetahuan pada salesman mengenai “tatacara mengelola toko yang baik” yang terdiri atas: tepat bila berjanji, memiliki Pelayanan yang baik, mencari barang murah, Pandai memanfaatkan sumber dana, tidak lupa dengan pembukuan. menyimpan arsip tagihan. menyimpan alamat dan nomor telepon Perusahaan, menyimpan daftar harga, *Perhatikan barang dikembalikan dan arsipkan, memanfaatkan buku cek dan giro bilyet, menyediakan uang tunai, dan membina hubungan perusahaan. Inilah sebuah kombinasi menjual Produk dan pembinaan kepada toko yang jarang dilakukan oleh sales. man-salesman perusahaan manapun.

Seperti yang saya kutip dari The Strategic Marketing Plus 2000 Conceptual frame work. nya Hermawan Kartajaya, bahwa: “Pada gilirannya, pelanggan yang puas akan meneruskan hubungan dengan karyawan (Salesman-pen) yang memuaskannya, sekaligus memberikan laba jangka panjang kepada pemilik perusahaan. Sebab, pelanggan yang puas akan melakukan pembelian ulang dan memberikan rekomendasi pada orang lain untuk membeli dari perusahaan bersangkutan. “Ini berarti, di dalam persaingan yang sudah tidak terlihat lagi perusahaan harus menjaga kepuasan seorang pelanggan secara terus menerus, yang pada akhirnya seorang pelanggan bukan saja sebagai “objek” tetapi akan menjadi partner dalam suatu usaha. Inilah konsep mendatang untuk perusahaan-perusahaan yang telah mengutamakan partnership dalam usahanya.

Selain itu, menurut Philip Kotler yang saya kutip secara bebas bahwa lembaga perantara. dalam hal ini toko, merupakan bagian mata rantai yang tidak mungkin dipisahkan dalam rangkaian sebuah saluran distribusi, terutama untuk produk konsumsi atau produk untuk kebutuhan sehari-hari. Sehingga memberdayakan toko agar menjadi lestari sebagai outlet kegiatan pemasaran suatu perusahaan, secara tidak langsung harus dipikirkan. Inilah terobosan baru yang harus menjadi pertimbangan. mengingat kini toko yang telah berkembang pesat dan dikelola dengan baik tidak saja berperan sebagai toko yang melayani konsumen langsung. tetapi telah mendistribusikan Produk-produk yang berasal dari suatu perusahaan. Misalnya, Alfa Retailindo selain melayani Konsumen secara langsung juga melayani pelanggan (toko lain yang berada di luar lingkungan usahanya. Indomaret membuka cabang dengan Puluhan toko minimarket di tiap kota secara agresif yang tersebar di seluruh penjuru kota ditanah air. Hal itu dilakukan tak lain adalah untuk menjual Produk-produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang termasuk dalam groupnya. Indogrosir, Makro. Matahari, dan Hero adalah Perwujudan pengelolaan toko yang telah dikembangkan untuk melayani konsumen lebih serius.

Bukan itu saja. sampai-sampai Hari Darmawan. Founding fathers- Honorary Chair. man Matahari Group mendirikan sekolah bagi Pengembangan toko bernama halai Business Institute bekerjasama dengan Australian institute of Management, bobson College (AS) dan IGDS (Swiss), sebagai wujud untuk memberdayakan toko sebagai bagian dari mata rantai saluran distribusi produk-produk perusahaan. Hari Darmawan sendiri menurut pernyataannya sangat khawatir dengan pelanjut bisnisnya dan sampai hari ini mungkin sudah sekitar 200 lembar sertifikat dikeluarkan untuk pebisnis (pemilik toko) yang telah mengikuti pelatihan. Alamat lengkap sekolahnya dapat dihubungi di RBI, Jl. Pondok Pinang Centre Blok C-38 Lt.1, Jl. Ciputat Raya. Jakarta Selatan 12310.

Selain toko menjadi tanggung jawab perusahaan dalam memberikan arahan bagaimana mengelolanya dengan baik, pemilik toko itu sendiri adalah “kunci penting” dalam menyukseskan toko yang dikelolanya. Dengan tidak bermaksud merendahkan bahwa toko adalah usaha yang berada di bawah tingkat perusahaan pemasoknya, toko yang solid yang tersebar di mana-mana menjadi kekuatan penting dalam menjalankan distribusi sebuah produk. Oleh sebab itu, kalau bisa saya rumuskan,

Pertama, upaya memberdayakan toko agar si owner memiliki pengetahuan mengenai tata cara mengelola toko yang baik adalah tanggung jawab perusahaan. Dalam hal ini yang melaksanakan adalah salesman yang bersentuhan langsung dengan pelanggannya serta pemilik toko itu sendiri “menjadi kunci” dalam usahanya untuk melestarikan toko sebagai sumber nafkah bagi keluarga.

Kedua, pemilik toko yang telah berkembang baik selayaknya melakukan pemasaran yang தள untuk mendapatkan omzet yang maksimal sehingga terpenuhi target pribadi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya Carаnуа bisa menggunakan apa yang dilakukan oleh pendahulunya, yaitu toko-toko modern seperti: Alfa Retailindo, Indomaret Indogrosir atau Makro.

Ketiga, bila disangkut pautkan sulitnya membangun ekonomi kerakyatan, maka kini saatnya memberdayakan toko sebagai cikal bakal usaha yang kelak besar menjadi sebuah usaha supplier. Hal ini sudah banyak dilakukan oleh kebanyakan etnis Tionghoa mengembangkan tokonya ke arah home industry, ataw industri-industri ekspor. Kini juga telah menjadi trend setter membuka factory outlet sebagai Perwujudan melayani konsumen. secara langsung dengan harga yang paling murah.

Keempat, memberdayakan toko memiliki tujuan antara lain: sebagai sarana perusahaan mendistribusikan produk-produknya, mengajak toko untuk berinteraksi secara teratur dengan perusahaan, menjaga produk dari kerusakan, dan bekerja sama untuk memasarkan produk lebih intensif.

Pada akhirnya, toko menjadi sangat penting bagi kegiatan perusahaan selain kegiatan-kegiatan lain, seperti beriklan, menetapkan harga, menentukan saluran distribusi yang tepat (memilih agen tunggal atau toko retailer (pen),dan merancang produk yang dihasilkan sedemikian rupa sesuai selera konsumen. Dengan demikian, tidak dapat dihindari lagi bahwa hubungan antara toko dan perusahaan yang harmonis akan menjadi senjata pemungkas dalam tujuan pemasaran suatu produk, baik dalam jangka pendek maupun dalam jangka panjang, semua itu akan terus berlanjut !

IX.5 MENGENDALIKAN KEWAJIBAN YANG HARUS DIBAYAR

IX.5 MENGENDALIKAN KEWAJIBAN YANG HARUS DIBAYAR

Home > Membuka Toko > Bab 9 > Mengendalikan Kewajiban yang Harus Dibayar

 

 

images

Mengurangi kewajiban berarti mengurangi cash out flow. Kewajiban suatu toko juga dipengaruhi oleh besar kecilnya kewajiban yang harus dibayar. Bila cash inflow toko lebih kecil dari cash out flow, bencana pasti akan menimpa Anda. Toko menjadi tidak seimbang lagi karena harus mengeluarkan sejumlah uang yang melebihi pemasukan toko. Bisa jadi, tagihan yang dibayar melebihi laba penjualan yang diterima toko.

Mengurangi kewajiban berarti Anda harus mengendalikan pengeluaran – pengeluaran yang ada. Sering kali kita tidak sadar dengan banyaknya kewajiban kecil yang harus dikeluarkan, seperti membayar rekening listrik. PDAM, telepon, handphone, kartu kredit, atau hutang – hutang pada supplier. Meningkatnya rekening – rekening tersebut dapat mengganggu cash flow toko. Seorang customer saya selalu berhati-hati dengan kewajibannya. Misalnya, bila ada pipa air yang bocor dengan cepat memperbaikinya tanpa harus menunggu kerusakan lebih parah, karena kerusakan itu dapat menambah biaya rekening semakin tinggi. Bila menggunakan listrik customer saya juga memperhatikan. Dia mematikan lampu-lampu yang tidak dipakai dan segera pula mematikan lampu-lampu yang digunakan malam hari. Dia akan mematikan lampu depan tokonya pada pukul lima pagi dan menghidupkannya pukul enam sore. Memang. bila dihitung tidaklah seberapa selisihnya,tapi dia rupanya mendisiplinkan diri untuk tidak boros dengan segala sesuatu yang harus dibayar dengan uang. Begitu pula bila menggunakan telepon. dia akan berbicara seperlunya dan menghindari menelepon bila tak penting.

Memiliki handphone saat ini memang sedang musim. Semua orang dapat bergaya dengan handphone di genggaman tangannya. Hanya orang-orang yang memiliki kelebihan uang yang bisa memakai handphone, begitulah image yang berkembang akhir-akhir ini. Herannya, meskipun memiliki uang. Pak Acong sama sekali tak tertarik dengan benda yang satu ini. Kelihatannya “lucu”, orang sesukses dia tidak memiliki alat komunikasi untuk menghemat waktunya. Ternyata Pak Acong menilai bahwa memakai handphone baginya adalah suatu pemborosan. Memang betul, menggunakan pesawat yang satu ini akan menimbulkan suatu kewajiban pada pemiliknya. Pulsa handphone yang dibayar tiap bulan itu akan menjadi kewajiban yang harus dipenuhi. Kalau boleh saya katakan “arogan”. Pemilik handphone “dipaksakan” untuk selalu membayar kewajibannya. Menurut saya tidaklah dilarang memiliki handphone. Akan tetapi, bila handphone tersebut hanyalah sebagai benda inventaris belaka, maka memiliki HP sangatlah berbahaya. Apakah tidak sebaiknya memakai telepon konvensional saja?

Kartu kredit yang Anda miliki juga dapat menambah kewajiban, terlebih jika kartu ini tidak sering digunakan. Kartu kredit tak jarang akan menjerat seseorang untuk berhutang melebihi kemampuannya.Pakailah kartu kredit untuk keperluan-keperluan strategis. Seorang customer saya menggunakannya dengan bunga 1 persen, untuk membeli barang di toko khusus, kemudian barang itu dijualnya kepada orang lain dengan keuntungan tertentu dan mendapatkan uang tunai. Kemudian uang tunai yang didapat digunakan untuk membeli barang keperluan tokonya, yang bisa dijual dengan cepat. Uang tunai yang diperolehnya dari penjualan barang yang dibelinya dengan kartu kredit dapat berfungsi sebagai cash flow. Lebih berbahaya lagi, bila terlambat membayar kartu kredit, tentunya akan dikenai denda yang cukup lumayan. Bunga yang harus dibayar tersebut akan meningkatkan kewajiban.

Di sisi lain, membeli produk-produk yang kurang laku dengan cara kredit juga dapat meningkatkan kewajiban kita. Cash flow toko akan terganggu karena uang Anda “membeku” menjadi barang yang tidak laku. Sebaiknya membeli barang-barang yang kurang laku itu dengan cara konsinyasi. Dengan demikian, Anda tidak dibebani hutang yang harus dibayar sebelum barangitu laku. Karenanya, membelibarangyang tidaklakuitu akan meningkatkan kewajiban seorang pemilik toko, bila membeli secarakredit putus atau secara tunai.

Mengurangi kredit properti dalam jangka panjang. Membeli rumah pada saat cash inflow toko Andarendah sebaiknya jangan dilakukan. Tetapi sebaliknya, memilih kredit dalam jangka pendek, karena jika semakin lama jangka waktu kredit yang diminta, maka kewajiban yang harus dibayar akan besar sekali. Segeralah menutup atau melunasi kredit tersebut ketika keuntungan Anda telah berlipat-lipat melampaui cash out flow. Dengan demikian, belilah aset yang tidak menimbulkan kewajiban yang harus kita bayar, tetapi aset itu selalu memberi penghasilan walau kita tak bekerja untuk asetitu. Sebaliknya. asetlah yang bekerja untuk kita.

Belajar dari Robert Tpengarangbuku Rich Dad Poor Dad, berlatihlah untuk meningkatkan penghasilan Anda dengan cara membeli aset yang menghasilkan. Karenanya, setiap kali Anda sebagai pemilik toko setelah tutup buku di akhir tahun, berpikir dan burulah aset yang menurut Anda dapat memperbesar penghasilan. Berbisnis membuka toko adalah awal Anda untuk meraih aset yang Anda inginkan kelak. Karena usaha membuka toko diyakini dapat memberi penghidupan pada orang-orang yang mau mencobanya.

Kalau kita mau mengevaluasi ulang. mengapa etnis Tionghoa lebih berkonsentrasi dengan bidang pekerjaan ini dan tidak memilih bidang lain. Karena membuka toko adalah ajang belajar bisnis yang paling sederhana. Ada suatu kisah, yang mungkin bisa saya ceritakan disini. Barangkali, menurut pandangan secara pragmatis, etnis Tionghoa yang hidup dikota-kota besar memiliki suatu ciri khusus yang sering menjadi persepsi buruk. Yaitu sebuah komunitas yang selalu berkelompok dan tersentralisasi di suatu tempat. Tetapi, suatu ketika saya dapat menepisnya setelah melihat dengan kenyataan bahwa sebenarnya tidak seperti pandangan umum. Mereka sebenarnya sama seperti warga biasa, berdampingan dan hidup bermasyarakat.

Suatu ketika saya mendatangi suatu desa terpencil. di daerah perbukitan perkebunan kopi. Letak desa itu mendekati kota Banyuwangi dan melewati jalan suatu desa yang terletak antara Situbondo dan Bondowoso. Mobil yang saya naiki merangkak menuju ke atas, dan kemudian sampai disuatu lokasi yang cukup terpencil tersebut. Karena tujuan saya untuk survei dan akan menawarkan beberapa produk perusahaan, saya pun mendatangi toko-toko yang ada di lokasi pasar desa itu. Betapa tercengangnya saya ketika melihat kenyataan bahwa sebagian besar pemilik toko adalah etnis Tionghoa. Fenomena apalagi, pikir saya. Saya juga berpikir kalau mereka tidak bisa berinteraksi dengan warga sekitar, mustahil seorang yang “berbeda” dapat hidup berdampingan di tempat itu.

Menurut Pak Acong, meskipun agak melenceng dari persoalan bab ini, ternyata etnis Tionghoa memiliki falsafah “dimana ada matahari di sanalah ada sumber kehidupan”. Dan saya pun lebih terkejut, bagaimana mereka mengumpulkan asetnya? Ketika saya tanyakan pada salah satu pemilik toko itu, ternyata asetaset yang dibelinya sesuai dengan keadaan di sana. Bisa sawah, ladang, ataupun gudang penggilingan padi, atau gudang tembakau. Dan falsafah itu agaknya memberi “keteduhan” bagi kita, yang saat ini sedang terancam sumber nafkahnya. Mencoba meniru tidaklah buruk. tetapi bertindak akan lebih baik sebelum terlambat. Tidak peduli seberapa banyak kita akan gagal, tetapi yang lebih penting seberapa banyak kita harus bangkit. Dimana pun kita berada sumber kehidupan itu ternyata ada di sekeliling kita. Seperti pepatah di ia. kalau kita mau menerjemahkan “di mana ada peluang di sanalah rezeki akan kita dapat” Selamat mencoba !!!

IX.4 SELALU PERLUKA MEMBELI ASET ?

IX.4 SELALU PERLUKA MEMBELI ASET ?

Home > Membuka Toko > Bab 9 > Selalu Perlukah Membeli Aset

 

index

Kadang kala membeli aset bersentuhan dengan keberanian seseorang berspekulasi. Seseorang yang membeli dengan cara berspekulasi bila beruntung akan mendapatkan aset yang diimpikan. Tetapi, kalau Anda tidak terbiasa dengan pola ini, maka tunggulah sampai keuntungan toko Anda memenuhi untuk membeli aset yang Anda inginkan. Memang, tidaklah selalu perlu untuk membeli aset untuk sebagian pemilik toko yang “pasrah” pada penghasilan toko sebagai sarana untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berlainan dengan Anda yang saat ini berkomitmen penuh pada usaha toko itu sebagai penghasilan utama. Membeli aset sangat perlu sebagai penunjang perkembangan toko Anda.

Menurut Pak Acong, setelah toko mengalami kemajuan pesat, ia menunjang perkembangan tokonya dengan membuka pabrik mi untuk memperoleh penghasilan yang lebih besar dari penghasilan toko. Dari mana uang itu sehingga dia mampu membangun sebuah pabrik? Rahasia yang diungkapkan pada saya, pada permulaan investasi, dia membeli sebuah rumah yang dekat dengan kampus dan digunakan sebagai rumah kos. Setelah beberapa tahun rumah kos itu menghasilkan, dia membeli rumah lagi di sebuah perumahan yang berpotensi untuk berkembang sebagai perumahan yang ramai. Rumah-rumah yang dibelinya di real-estate kemudian dijualnya dengan harga tinggi, tapi sebelumnya dikontrakkan beberapa waktu kepada orang lain. Aset-aset berupa tanah, rumah, dan benda-benda yang bernilai tinggi lain kemudian dijualnya satu per satu dan uangnya dihimpun untuk membeli sebidang tanah di pinggiran kota yang per meternya berharga murah. Di atas tanah itu kemudian didirikan bangunan sebagai pabrik pembuatan mi. Begitulah proses “mendirikan” pabrik mi itu berawal. Membeli aset sedikit-sedikit. kumpulkan, dan juallah untuk mendapatkan aset lain yang berharga murah. Begitulah awalnya sehingga Pak Acong menjadi orang yang sukses.

Apa yang dilakukan oleh Pak Acong adalah salah satu contoh untuk mendapatkan aset yang bernilai besar. Namun, ada cara-caralain yangmungkin sebagian orang menganggap jitu dengan caranya sendiri. Misalnya, uang yang diperolehnya dari bisnis toko dibuat untuk memperbesar tokonya dengan membeli barang-barang keperluan toko. Uang itu dibelikan barang-barang “gangdo” yang kemudian dijual di kemudian hari bila harganya tinggi. Seorang customer saya yang lain, pada saat gula melimpah memborong gula itu dan menimbunnya hingga bergudang-gudang. Pada saat gula “langka” customer saya menjualnya sedikit demi sedikit. Membeli gula bisa menjadi aset, tapi memperoleh penghasilan di kemudian hari. Idealnya, jika bisa saya rumuskan bahwa disamping nantinya aset itu akan bernilai jual tinggi, aset itu juga akan memberikan penghasilan walau kita tidak bekerja. Aset-aset seperti inilah yang harus diburu. Mengapa tidak segera mencarinya?

IX.3 ASET YANG MEGHASILKAN UANG

IX.3 ASET YANG MEGHASILKAN UANG

Home > Membuka Toko > Bab 9 > Aset yang menghasil Uang
PERLINDUNGAN ASET

Seperti pada permulaan babini, bila ingin membeli aset, maka belilah aset yang
menghasilkan uang. Aset yang menghasilkan uang tentunya akan dapat membantu meningkatkan keuangan pribadi Anda, tanpa harus mengganggu kelancaran arus uang yang ada di usaha Anda. Memisahkan antara uang yang ada di toko dengan uang yans akan ian sebagai aset perlu diperhitungkan juga. Jangan sampai uang yang akan Anda belikan aset itu merupakan modal yang dimiliki toko. Banyak sekali kesalahan yang dilakukan oleh customer saya mengenai hal yang satu ini. Selain membeli aset yang bop tanah, ataupun mobil, ia juga membeli barang-barang elektronik kebutuhan rumah tangga, seperti TV, kulkas, radio, dan VCD. Uang hasil berjualan bisa jadi setiap bulannya akan digunakan untuk membayar sekolah anak-anak, membayar rekening listrik, rekening * atau telepon, atau keperluan-keperluan Setelah sekian lama hal-hal itu dilakukan, tidak disadari akhirnya persediaan uang yang ada di toko menjadi berkurang. sebelumnya mampu untuk membeli barang sejumlah 1 tapi tiba-tiba hanya mampu untuk membeli barang 200 ribu. Itulah yang dapa memperparah kondisi toko dan baru disadari di kemudian hari.
Seorang customer saya yang lain seperti Mas Rochim, memanfaatkan uang yang berasal dari keuntungan tokonya untukaset yang dapat dibelinya dengan mudah dan sekejap saja menghasilkan uang Misalnya, membeli alat Penggiling daging, tepung beras, dan kopi, serta alat pemarut kelapa. Alat-alat itu meskipun tidak bernilai tinggi tapi segera menghasilkan uang. Dan bila dihitung. menurut Mas Rochim modalnya akan kembali setengah tahun saja. Selebihnya Mas Rochim akan memetik hasil dari aset yang dibelinya itu. Jadi, memilih aset tidak harus berharga tinggi, tapi bisa pula yang berharga rendah dan menghasilkan uang setiap waktu.
Berbeda dengan customer saya yang lokasi tokonya di sebuah desa. Dia membelanjakan uang keuntungan dari tokonya untuk membeli seekor sapi yang diharapkan akan beranak Pinak. Sapi yang beranak pinak itu akan “menjadi aset yang memberikan penghasilan di kemudian hari. Di samping itu, juga akan memberikan penghasilan kalau disewa seorang petani untuk membajak sawah. Pemikiran yang sederhana ini terkadang bisa dilupakan orang pada tempat tinggal yang berbeda. Apabila orang kota lebih menyukai tanah dan rumah sebagai aset orang ditempat lain mungkin bisa berbeda, tergantung dari kondisi masyarakat serta kebiasaan masyarakat sekitar. Kisah lain dari seorang teman saya di kantor dia tidak tertarik membeli sebuah rumah di perumahan sebagai aset atau investasinya. Tetapi lebih menyukai membeli tanah yang bisa ditanami apel, sayuran, dan buah-buahan lain di kota kelahirannya. Karena menurutnya uang yang saat ini digunakan untuk sepetak rumah di perumahan yang bertipe 36 bisa dibelikan tanah yang luasnya lumayan di desanya.
Membeli aset yang dapat menghasilkan uang menurut saya bisa disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang ada di sekitar rumah atau toko Anda. Berbeda lagi dengan seorang customer saya yang lain. Keuntungan toko yang diperoleh digunakan untuk membeli seperangkat peralatan pesta dengan pertimbangan bahwa alat-alat itu saat ini tidak ada yang mengusahakan. Peralatan pesta yang dibelinya lengkap mulai dari piring. kursi, tenda, sampai dengan peralatan audio. Dari peralatan ini, dia bisa mengembalikan sejumlah uang untuk membeli aset itu. Jadi membeli aset yang menghasilkan dapat Anda atur sendiri menyesuaikan dengan kondisi pasar saat itu. Di kota orang cenderung membeli rumah dan tanah sebagai asetnya. Orang desa bisa memilih tanah, atau binatang peliharaan sebagai asetnya. Akan tetapi, yang penting uang yang digunakan untuk membeli aset tidak berasal dari uang yang ada di toko milik Anda. Apabila uang itu merupakan aliran dana toko Anda, maka dapat dipastikan aset yang Anda beli itu akan menjadi bumerang yang merugikan.